"Infrastrukur internet jadi kendala, maka kami gunakan flashdisk untuk menyebarkan materi itu ke pelosok Indonesia," jawab Managing Director inibudi.org, Wilita Putrinda saat ditanya tantangan dan hambatan pendidikan digital.
Managing Director inibudi.org, Wilita Putrinda (Nograhany WK/detikcom) |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan di pelosok, seperti wilayah timur Indonesia, Wilita mengatakan pihaknya sering mengirimkan materi dalam bentuk CD dan flashdisk. inibudi.org pernah mengirim bahan ajar dalam flashdisk sampai ke 200 sekolah di wilayah Maluku.
"Kalau tidak ada internet kan materi kami jadi tidak relevan. Tantangannya semoga internet lebih murah sehingga lebih banyak yang bisa mendownload materi-materi pendidikan ini, dengan demikian sekolah juga jadi lebih murah, karena diseminasi informasi jadi efektif dan murah," harap Wilita.
Sementara Dian Martin, pendiri sekolahpintar.com Meski infrastruktur internet kini masih belum merata, namun tren kecepatan internet ke depan akan makin tinggi.
"Juga tingkat konsentrasi saat online itu kan tinggi, jadi gampang bosan biasanya," tuturnya saat ditemui di kantornya, ITC Permata Hijau, Jakarta Selatan, Sabtu (30/4/2016).
Sedangkan inisiator Akademi Berbagi, Ainun Chomsun lebih menyoroti tantangan pendidikan digital ini lebih menyoroti ke perubahan perilaku dan antisipasi dampak negatifnya.
Inisiator gerakan Akademi Berbagi, Ainun Chomsun (Nograhany WK/detikcom) |
"Tantangan pendidikan digital itu banyak banget, yang jelas digital itu mengubah perilaku anak belajar dan menyerap ilmu. Metode lama jadi tidak disukai anak-anak. Terjadi perubahan signifikan," tuturnya saat ditemui di Pesta Pendidikan di Monas, Minggu kemarin.
Akses kepada ilmu dan informasi, lanjut Ainun, jadi sangat cepat dan tak terbatas. Arus informasi tak bisa dibatasi, yang bisa sebagai orang tua harus mendampingi dan menunjukkan konten positif pada anak.
"Minusnya, anak cepat terpapar konten negatif. Maka harus bisaย membuat anak selalu terbuka komunikasinya kepada orangtua, agar kalau anak mendapat konten negatif bertanyanya ya sama orangtua. Kemudian buat aturan bersama, soal password dan segala macam. Kemudian beritahu ada hal-hal yang boleh dan tak boleh diakses, tentu dengan penjelasan ilmiah," tuturnya.
Ada generation gap, lanjutnya, antara anak yang digital native dan orangtua yang masih analog. Nah ini harus disikapi orangtua dengan lebih cepat belajar melek digital agar bisa menyamai anak sekarang.
"Mau tidak mau orangtua harus belajar digital, agar bisa mendampingi anak-anaknya. Saya ajak orangtua untuk melek teknologi, tak bisa lagi beralasan gaptek dan tidak tahu. Kalau orangtua gaptek dan tidak tahu, orangtua dan anak nanti jadi tak bisa ngobrol kan," imbau Ainun. (nwk/nwk)












































Managing Director inibudi.org, Wilita Putrinda (Nograhany WK/detikcom)
Inisiator gerakan Akademi Berbagi, Ainun Chomsun (Nograhany WK/detikcom)