11 Ribu Rumah Knockdown Segera Dibangun di Aceh
Jumat, 18 Mar 2005 13:25 WIB
Banda Aceh - Sedikitnya 11 ribu rumah akan dibangun di Banda Aceh bagi para korban tsunami. Rumah yang disiapkan berbentuk knockdown dengan luas 6 x 6 meter persegi. Rumah itu terdiri dari empat ruang bagi masing-masing keluarga."Kami sudah membangun sampel rumah tersebut. Ada empat rumah yang sudah ada. Kami masih menunggu material selanjutnya untuk pembangunannya kelak. Keseluruhan material dibuat di Indonesia, khususnya didatangkan dari Bandung," terang Paul Dillon, perwakilan International Organisation for Migration (IOM) pada wartawan dalam jumpa pers di media center Infokom, Banda Aceh, Jumat (18/3/2005).Rumah-rumah sampel yang sudah didirikan tersebut berada di Desa Lamblangtrieng, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar. Sayangnya, sampai saat ini, IOM belum dapat memastikan siapa-siapa saja yang kelak dapat memiliki rumah yang akan diberikan secara gratis tersebut. Menurut dia, saat ini pihaknya masih berkoordinasi dengan kepala desa dan camat-camat di Banda Aceh untuk memastikan siapa-siapa saja yang kelak berhak menerima rumah tersebut."Jika material dari Bandung sudah tersedia, sedikitnya kami akan menyerap tenaga kerja sektiar 20 orang untuk membuat rumah tersebut dalam 2 hari. Mudah-mudahan, program ini dapat membuat kami menyerap tenaga kerja yang banyak," katanya lebih lanjut. Pasalnya, mereka merencanakan akan membuat sekitar 200 sampai 300 rumah dalam satu minggu."Rumah-rumah tersebut akan kami bangun di daerah-daerah yang sudah kami survei terlebih dahulu, khususnya soal air dan sanitasi. Jika kedua hal ini tidak terpenuhi, sulit bagi kami untuk membangun rumah-rumah. Karena kami tidak akan bisa bekerja jika kedua tidak ada," ujarnya sembari menambahkan, untuk satu unit rumah menelan biaya sekitar US$ 2.000. Untuk pembangunan ini, selain bekerja sama dengan Departemen PU, IOM juga telah bekerja sama dengan 3 kontraktor lokal.Kajian Kebutuhan dan AspirasiSaat ini IOM juga tengah melakukan kajian kebutuhan dan aspirasi kepada para pengungsi di 71 kecamatan sepanjang pantai timur dan barat. Kajian ini dilakukan untuk menerima masukan mengenai pemukiman transisi, pemukiman permanen, sampai peluang kehidupan di masa depan.Kajian ini akan melibatkan 2.000 pengungsi yang terdiri dari perempuan dan laki-laki. Tidak hanya pengungsi yang tinggal di kamp-kamp pengungsian, tapi juga para pengungsi yang tinggal di gedung-gedung milik pemerintah dan di rumah- rumah saudara para pengungsi.Selain itu, bersama BAPPENAS, IOM juga telah melakukan survei selama 6 minggu di lokasi yang terkena dampat tsunami di 94 kecamatan di 17 kabupaten/kota di Aceh. Survei dilakukan di 1.000 desa dan kota."Hasilnya akan memberi gamabran yang paling akurat dan komperhensif mengenai kerusakan pada rumah masyarakat, bangunan umum, bangunan pemerintah dan langkah krusial dalam proses rekonstruksi," demikian Paul Dillon.
(nrl/)











































