Hardiknas di Purwakarta, Bupati Dedi dan Pelajar Bersih-bersih Lingkungan

Hardiknas di Purwakarta, Bupati Dedi dan Pelajar Bersih-bersih Lingkungan

Tri Ispranoto - detikNews
Senin, 02 Mei 2016 10:56 WIB
Hardiknas di Purwakarta, Bupati Dedi dan Pelajar Bersih-bersih Lingkungan
Foto: Tri Ispranoto/detikcom
Purwakarta - Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada hari Senin 2 Mei 2016 diwarnai oleh aksi bersih-bersih yang dilakukan oleh seluruh pelajar di Kabupaten Purwakarta.

Pada Senin pagi pelajar melaksanakan upacara bendera untuk memperingati Hardiknas 2016. Usai upacara para pelajar melakukan aksi bersih-bersih dimulai dari lingkungan sekolah masing-masing seperti di dalam kelas, lapangan, hingga ruang guru.

Foto: Tri Ispranoto/detikcom

Setelah membersihkan lingkungan sekolah para pelajar pun beralih dengan membersihkan lingkungan di luar sekolah dengan diawasi oleh para guru. Mereka bertugas untuk menyapu trotoar hingga membantu petugas kebersihan membersihkan gorong-gorong dan mengangkut sampah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seperti halnya yang dilakukan oleh pelajar SD, SMP, dan SMA yang berada di Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Purwakarta Kota, Kabupaten Purwakarta, yang bersama-sama membersihkan lingkungan sekitar bersama Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi.

Foto: Tri Ispranoto/detikcom

Menurut Dedi, aksi bersih-bersih dipilih sebagai peringatan Hardiknas 2016 karena saat ini mayoritas pelajar kurang peka dengan lingkungan sekitar. Mereka hanya fokus pada akademisi sebagai tolak ukur prestasi.

"Daya peka mereka ini cenderung rendah sehingga daya kreatifitas dan daya saing mereka rendah juga. Itulah yang yang harus dibenahi. Lihat saja tadi lingkungan sekolah rata-rata kotor, padahal itu halamannya sendiri," tutur Dedi.

Selama ini,Β  menurutnya sekolah terkesan hanya merumuskan dan memberikan ilmu tanpa dibarengi dengan hal yang aplikatif sehingga membuat anak-anak cenderung tidak kreatif.

Foto: Tri Ispranoto/detikcom

Dulu, kata Dedi, di sekolah dia tidak hanya disuruh untuk membersihkan sekolah namun juga diharuskan membuat sapu sendiri. Bahkan anak-anak seusianya saat itu pun diajari bagaimana cara menyapu yang baik dan benar.

"Betapa orang dulu itu dididik kreatif dari mengolah bahan mentah menjadi bahan baku hingga menjadi barang jadi berupa sapu. Bukan persoalan sapunya tapi inovasi. Dan itu adalah pendidikan," ucapnya.

Foto: Tri Ispranoto/detikcom

Dia berharap dengan contoh pendidikan aplikatif dengan berbasis kebudayaan bisa menumbuhkan rasa kepekaan dan kreatifitas minimal di lingkungan sekolahnya masing-masing.

Dari pantauan detikcom, para pelajar antusias untuk melakukan bersih-bersih di luar sekolah. Kebanyakan dari mereka membawa sapu dan tempat sampah, tapi ada pula pelajar pria yang sudah dewasa membawa parang untuk membersihkan rumput liar yang tumbuh di sekitar sekolah mereka. (trw/trw)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads