Saat memberikan sambutan di acara Apel Besar Hari Lahir (Harlah) ke-93 NU di Taman Candra Wilwatikta di Pandaan, Pasuruan, Jawa Timur, Megawati menceritakan komunikasinya dengan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur semasa hidup.
"Ketika di dalam diskusi, Beliau (Gus Dur) mengatakan, Mbak kene ojo pecroh (kita jangan berantem). Kita siapa mas? (panggilan Gus Dur oleh Mega). Ya NU karo (sama) PDI Perjuangan. Kenapa mas?. Nek kene pecro negoro iki iso rusak (kalau kita berantem, negara ini bisa rusak)," kata Megawati, Sabtu (30/4/2016).
Mega juga menceritakan hubungan antara ulama yang religius dengan ayahnya, Soekarno, seorang nasionalis. "Ketika saya masih kecil, saya bertanya kepada ayah saya. Siapa yang berbicara dengan ayah yang memakai kopiah dan sarung," tuturnya.
"Kata ayah saya, mereka itu para pembesar, para kiai. Kiai adalah penjaga rumah bangsa ini secara agama," terangnya.
Hubungan nasionalis dan religius ini masih terus dirajut hingga sekarang. Bahkan ketika Mega menjadi Wapres dan Gus Dur sebagai Presiden RI, keduanya punya ikatan batin yang sama meski saling berbeda pendapat.
"Ternyata memang apa yang dikatakan Gus Dur memang semakin mantap. Memang fisik nggak bisa bersama, tetapi batin kita selalu seiya sekata," tuturnya.
Saat memberikan sambutan, Mega juga bicara soal nasi goreng yang pernah dipuji Gus Dur. Mega mencoba bercerita soal pengalamannya bersama Gus Dur memimpin pemerintahan.
"Meski kami suka berdebat, tapi kalau Gus Dur memanggil saya Mbak Mega dan saya memanggil Mas Dur," tuturnya.
"Saya merasa terhomat sekali, karena undangannya luar biasa pada Hari Lahir ke-93 Nahdlatul Ulama. Rasanya kalau begini saya ingat Gus Dur," sambungnya.
Meski pernah berbeda pendapat, Gus Dur dan Mega tetap menjaga komunikasi meski dengan hal-hal kecil.
"Nasi goreng (buatan) saya paling enak sedunia. Itu kata Beliau," kata Mega. (roi/fdn)











































