Peran Masyarakat Sipil Penting dalam Menangkal Radikalisme

Laporan dari AS

Peran Masyarakat Sipil Penting dalam Menangkal Radikalisme

- detikNews
Sabtu, 30 Apr 2016 00:59 WIB
Peran Masyarakat Sipil Penting dalam Menangkal Radikalisme
Foto: Diskusi radikalisme di Washington DC (Shohib Masykur/detikcom)
Washington DC - Masyarakat sipil memiliki peran amat penting dalam menangkal radikalisme. Organisasi keagamaan seperti NU dan Muhammadiyah perlu didorong dan diperkuat dalam upaya memerangi terorisme.

Hal itu disampaikan Utusan Khusus Kemlu AS untuk Komunitas Muslim, Shaarik H. Zafar, dalam diskusi publik di Center for Strategic and International Studies (CSIS), Washington DC, AS, Kamis (28/4/2016).

Diskusi itu juga menghadirkan imam Shamsi Ali dari New York dan Fauziah Fauzan dari Diniyyah Putri Padang Panjang, Sumatera Barat, sebagai pembicara.
Foto: Suasana diskusi CSIS di Washington DC (Shohib/detikcom)

"Indonesia memiliki organisasi keagamaan terbesar di dunia, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Mereka turut menentukan apa yang islami dan apa yang tidak. Ini menjadi salah satu kekuatan Indonesia," kata Shaarik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Shaarik, salah satu tantangan utama dalam menghadapi terorisme adalah bahwa teroris menggunakan bahasa dan platform yang jamak dipakai masyarakat sehingga menjangkau audiens yang luas, misalnya dengan media sosial. Teroris tidak menggunakan bahasa akademik yang hanya dimengerti segelintir orang.

Oleh karena itu, menangkal ideologi teroris juga harus menggunakan bahasa dan cara komunikasi yang mudah menjangkau masyarakat. Di sanalah masyarakat sipil punya peran lebih penting ketimbang negara, dan itulah pentingnya negara mendukung masyarakat sipil.

"Ini bukan hanya soal apa substansi yang disampaikan, tetapi juga bagaimana substansi itu disampaikan dan apa platform yang digunakan," kata Shaarik.

Sementara Shamsi Ali menyampaikan bahwa Indonesia adalah contoh terbaik bagaimana Islam dan demokrasi bisa berjalan seiring. Dalam sejarahnya, masuknya Islam ke Indonesia memang dilakukan dengan jalan damai melalui jalur perdagangan.

Terjadinya konflik antara Barat dengan Islam menurutnya tak lepas dari sikap tidak peduli kedua belah pihak satu sama lain. Hal itu diperparah oleh media yang acapkali tidak menampilkan sisi yang berimbang dalam memberitakan. Faktor lain yang juga penting adalah adanya misinterpretasi ajaran agama sehingga mengakibatkan pemahaman yang menyesatkan.

Dalam diskusi tersebut seorang peserta Yahudi menyampaikan kisah mengharukan. Ketika Perang Dunia berkecamuk, Alfred Munzer, nama priaย  itu, masih berusia amat belia. Sebagai seorang Yahudi di Belanda, dia menghadapi ancaman dari kekejian anti-Yahudi yang dilancarkan Hitler. Dia bisa lolos dari holocaust berkat pertolongan pembantunya yang merupakan seorang warga Indonesia.

"Saya berhutang hidup saya kepada seorang perempuan muslim Indonesia yang membantu saya selamat dari holocaust. Saya ingat bagaimana dulu dia sering menyanyikan nina bobok ketika saya menjelang tidur," kata Alfred.
Foto: Suasana diskusi CSIS di Washington DC (Shohib/detikcom)

Suatu saat dia berbagi kisah tersebut kepada para mahasiswa muslim yang berkunjung ke AS. Karena terharu, para mahasiswa itupun sampai memeluknya seraya berkata bahwa mereka semua adalah satu keluarga.

"Ini adalah pesan yang amat kuat. Pertanyaannya adalah bagaimana pesan semacam itu disebarluaskan sehingga benar-benar tercipta satu dunia," kata Alfred.

Hal serupa diamini Shaarik. Banyak kisah solidaritas antar-agama yang bisa menjadi inspirasi dan perlu disebarluaskan sehingga publik memiliki kesan lebih positif terhadap hubungan antar-agama.

"Ada cerita tentang 1000 rabi Amerika yang mengirim surat dukungan untuk pengungsi muslim yang datang ke AS," kata Shaarik. ย 

Sementara peserta lain menggarisbawahi bahwa salah satu faktor utama di balik maraknya terorisme adalah kebijakan luar negeri AS di negara-negara Islam yang menyulut kemarahan masyarakat muslim. Oleh karena itu, mengatasi radikalisme perlu dilakukan dengan memperbaiki kebijakan tersebut.

(Shohib Masykur/miq)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads