Cerita Para Pemuda Mengubah Nasib, dari Keluarga Miskin Menjadi Calon Pilot

Cerita Para Pemuda Mengubah Nasib, dari Keluarga Miskin Menjadi Calon Pilot

Ardian Fanani - detikNews
Jumat, 29 Apr 2016 11:13 WIB
Cerita Para Pemuda Mengubah Nasib, dari Keluarga Miskin Menjadi Calon Pilot
Foto: Ardian Fanani/detikcom
Banyuwangi - Sudah 6 bulan ini, 5 pemuda asal Surabaya menjadi taruna di Balai Pendidikan dan Pelatihan Penerbangan Banyuwangi (BP3B). Mereka terus berlatih menjadi pilot.

Para pemuda ini istimewa: berasal dari keluarga tidak mampu, namun memiliki semangat dan kemampuan yang luar biasa. Mereka adalah Muhammad Iqbal Mutaqqin (19), Adiyatma Kusuma Wijaya (23), Muhammad Salman Alfarizi (23), Muhammad Saifudin (24), dan Rizal Awaludin Adiansah (19).

Sebagai contoh, ayah Muhammad Iqbal Mutaqqin berprofesi sales keliling dan ibunya hanya kasir warung lesehan. Sedangkan orangtua Adiyatma Kusuma Wijaya adalah tukang masak restoran. Selanjutnya, ortu Muhammad Salman Alfarizi dan Muhammad Saifudin hanya kuli batu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ke-5 pemuda ini lolos seleksi ketat dan mendapatkan beasiswa dari Dinas Sosial Surabaya. Selama 18 bulan, 5 taruna asal Surabaya ini akan belajar dan berlatih menjadi pilot.

Untuk masuk menjadi taruna pilot, Muhammad Iqbal Muttaqin dan kawan-kawan harus menjalani 10 tes yang sangat ketat. Tes pertama dilakukan di Surabaya, meliputi tes akademik, tes administrasi dan masih banyak lagi. Selanjutnya, tes kedua dilakukan di Banyuwangi, yakni tes kesehatan dan bakat terbang. Nah, ke-5 pemuda itu sukses melewati tahap-tahap itu.

Apa komentar mereka setelah 6 bulan berlatih di sekolah pilot? "Fasilitas di sini sangat bagus. Kami terus menimba ilmu dan berlatih," ujar Iqbal, sapaan Muhammad Iqbal Muttaqin, saat berbincang dengan detikcom, Jumat (29/4/2016).

Sekolah Pilot di Banyuwangi

Iqbal dan empat rekannya tergabung dalam batch (angkatan) IX dan X di Pilot School Banyuwangi bersama 32 taruna dari daerah lain.  Aktivitas mereka dimulai sejak pagi hingga sore hari. Menerima materi dari instruktur, hingga praktik simulator dilakukan setiap hari. Untuk mengejar target cepat untuk bisa menerbangkan pesawat, tak jarang mereka juga berlatih simulator pada malam hari.

"Setelah 4 bulan ground school, kita sudah latihan dengan simulator. Mungkin seminggu lagi kita akan terbang menggunakan pesawat sungguhan," tambah Iqbal.

Sementara itu, Muhammad Salman Alfarizi mengaku kerasan belajar dan tinggal di asrama Pilot School Banyuwangi. Pelatih dan seniornya di LP3 Banyuwangi memperlakukan dirinya bersama dengan 4 rekannya yang lain dengan baik. Saling membantu dan mendidik secara disiplin dilakukan selama menimba ilmu di sekolah pencetak pilot kedua setelah STIP Curug ini.

"Makanannya enak. Selain itu, senior dan instruktur di sini juga baik. Kami selalu diberi arahan dan belajar disiplin. Karena disiplin itu penting dan menjadikan kami calon pilot yang handal," ujar pemuda asal Siwalankerto ini.

Balai Pendidikan dan Pelatihan Penerbangan Banyuwangi (BP3B) merupakan 1dari 2 sekolah pilot berstatus negeri di Indonesia. Mereka menampung 24 taruna tiap angkatan. Jumlah yang sangat terbatas. Sementara kebutuhan pilot di Indonesia berkisar 600-700 pilot per tahun. Iqbal dan kawan-kawan siap mengisi mengisi slot itu, mengubah nasib jadi lebih baik. (fat/try)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini