Nazaruddin Mengaku Beli Saham PT Panahatan Pakai Uang Neneng

Rina Atriana - detikNews
Rabu, 27 Apr 2016 17:39 WIB
Nazaruddin/dok.detikcom (Foto: Rachman Haryanto)
Jakarta - M Nazaruddin menyebut pembelian saham PT Panahatan yang disangka terkait pencucian uang dilakukan dengan modal uang milik istrinya, Neneng Sri Wahyuni. Nazar mengaku menjalankan sejumlah bisnis sebelum menjadi anggota DPR.

"Pembelian Panahatan murni uang dari istri saya," kata Nazaruddin dalam lanjutan persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jl Bungur Besar, Jakarta Pusat, Rabu (27/4/2016).

Nazaruddin menjelaskan, sebelum menjadi anggota DPR, dia menjalankan sejumlah bisnis yang uangnya dipisahkan secara khusus dari uang-uang yang didapatkan dari fee-fee proyek. Bisnis yang dijalankan antara lain perkebunan sawit, batubara, nikel, dan pengangkutan balok.

"Semua saya pindahkan ke rekening istri saya setelah nikah pada 2003. Lalu 2005 saya serahkan uang ke istri saya semua karena saya mau berpolitik, bahasa saya dulu (uang) ini untuk anak-anak untuk dibawa ke rumah," jelas Nazar.

Neneng yang kemudian mengurus keuangan di Permai Group saat Nazar menjadi anggota DPR. Meski begitu, kadang ketika keuangan di Permai Group kosong, Nazar mengisinya dengan uang dari rekeningnya.

"Hal itu legal," ujarnya.

Mengenai pembelian saham Bank Mandiri, Nazar menyebut menggunakan uang dari lima perusahaan yang ada di Permai Group. Detail transaksinya Nazar mengaku tak tahu menahu, hal tersebut diurus Yulianis selaku Wakil Direktur Keuangan Permai Group kala itu.

"Kalau saya ketemu hanya tahu point angka-angkanya saja. Kalau ditanya Mas Anas bisa, Mas Anas kan misal bilang perlu dana segini, nanti dia yang tentukan ke mana kalau tidak saya digoblok-goblokan, saya harus pastikan di kantong ada dana stand by," tutur Nazar.

Dalam persidangan terkait pembangunan Hambalang 2014 lalu, Anas memang sempat disebut Nazar sebagai pengendali di Permai Group. Di persidangan kali ini, Nazar menyebut dirinya sebagai salah satu orang kepercayaan Anas.

"Mas Anas itu percaya sama saya, tapi selalu kasih orang untuk crosscheck. Yulianis pernah dikeluarkan karena ketahuan ada uang digeser karena perminaan istri Mas Anas. Jadi selalu kita mengusulkan tapi Mas Anas yang memutuskan jadi saya yang dipercaya Mas Anas," papar Nazaruddin.

Nazaruddin didakwa melakukan tindak pidana korupsi dengan menerima duit fee total Rp 40,369 miliar. Duit fee diterima Nazaruddin terkait sejumlah proyek pemerintah. Ia juga didakwa melakukan tindak pidana pencucian uang dengan total sekitar Rp 627 miliar periode tahun 2010-2014.

Nazaruddin disebutkan mengalihkan saham perusahaan di bawah kendali Permai Grup yaitu di PT Exartech Technologi Utama dan PT Panahatan seluruhnya Rp 50.425.000.000.

(rna/fdn)