Manusia Purba Sangiran

Saat Manusia Modern dan Manusia Purba Dipertemukan di Sangiran

Rachmadin Ismail - detikNews
Rabu, 27 Apr 2016 15:05 WIB
Temuan tengkorak di Sangiran
Jakarta - Kawasan Cagar Budaya Sangiran, Kabupaten Sragen, Jawa Tegah, menjadi tempat bertemunya manusia modern dan fosil manusia purba yang hidup jutaan tahun lalu. Bagaimana mereka menjaga 'keharmonisan' di tengah arus modernisasi di sana-sini?

Kubah Sangiran sudah diakui UNESCO sejak tahun 1996 sebagai warisan dunia untuk mempelajari fosil manusia. Pertama kali, peneliti yang datang ke situs tersebut adalah P.E.C schemulling pada tahun 1883. Lalu, penelitian lebih intensif digelar oleh Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald pada tahun 1934.

Kawasan cagar budaya tersebut memiliki luas 65 kilometer persegi (7km x 8 km). Lokasinya berada di 15 kilometer sebelah utara Solo di lembah Sungai Bengawan Solo. Wilayah itu meliputi Kabupaten Sragen tepatnya di Kecamatan Gemolong, Kecamatan Kalijambe dan Plupun, satu lagi di Kabupaten Karanganyar, tepatnya di Kecamatan Gondangrejo.


Temuan fosil homo erectus arkaik (foto: Muchus)


Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Harry Widianto menyebut, ada 210 ribu penduduk di Sangiran. Mereka tinggal di 4 kecamatan dan 22 desa. Sejak dulu dan turun temurun, mereka sudah tinggal di Sangiran, jauh sebelum para peneliti datang.

"Jauh sebelum Sangiran ditetapkan sebagai Cagar Budaya tahun 1977 dan jauh sebelum UNESCO memasukkan Sangiran sebagai warisan dunia tahun 1996, masyarakat sudah ada di sana," kata Harry saat berbincang dengan detikcom, Rabu (27/4/2016).

Menurut Harry, masyarakat di Sangiran sudah terbiasa hidup berdampingan dengan temuan fosil manusia purba. Hampir setiap bulan, ada laporan temuan fosil purba, baik itu dari hewan maupun dari manusia zaman dulu. Mereka sudah sadar tidak melakukan penggalian sendiri bila menemukan fosil, namun melapor ke Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSM) di Sangiran.

"Kami dari BPSM sejak tiga tahun lalu sudah melakukan sosialisasi dari arti penting bagi ilmu pengetahuan dan sejarah. Kita sosialiasi dari desa ke desa," cerita Harry yang pernah menjabat sebagai kepala BPSM ini.

Fosil Sangiran IV yang ditemukan Koenigsweld


Dulu, kata Harry, masyarakat enggan melapor ke Balai bila menemukan fosil purba. Mereka lebih memilih menyimpan di rumah lalu dijual kepada kolektor. Namun seiring waktu, kesadaran untuk melapor itu muncul. BPSM pun membuat program apresiasi bagi warga dengan memberikan penghargaan piagam dan uang bagi para penemu fosil.

"Saya menciptakan mekanisme pemberian penghargaan ini dalam harus dilakukan dalam dua minggu dan harus memberikan secara ekonomis biar mereka merasakan," terangnya.

Besaran uang yang diberikan bervariasi, mulai dari ratusan ribu rupiah hingga jutaan rupiah. Untuk temuan Setu Wiryorejo (55), yang berhasil mendapatkan fosil atap tengkorak homo erectus arkaik, dia layak mendapat hadiah hingga belasan juta rupiah. "Saya sarankan kasih minimal Rp 15 jutalah," terangnya.

Meski begitu, Harry mengingatkan warga agar tidak dengan sengaja untuk mencari fosil dan artefak. Kawasan itu sudah dilindungi undang-undang, sehingga siapa pun yang melakukan penggalian atau sengaja mencari fosil tanpa izin, dan bukan untuk penelitian, maka ada ancaman pidana.

"Ini untuk menghindari para pencuri-pencuri artefak yang tidak bertanggung jawab. Kalau mereka mau lapor mendapat award, tapi kalau negatif ada punishment-nya. Memindahkan aja tanpa izin bisa kena, apalagi menyimpan," paparnya.

Dengan pengalaman selama ini, Harry yakin warga sudah mulai peduli dengan kelestarian situs purba di Sangiran. Bahkan, kini masyarakat sudah lebih pintar dalam mengenali benda-benda yang diduga datang dari era ratusan ribu sampai jutaan tahun lalu.

"Kontributor kita sudah mengenal lapisan mana yang kira-kira ada fosil manusia dan binatang. Mereka punya pengalaman empiris, dan kita ajarkan dengan sebuah pendidikan," ungkapnya.

Di lahan tersebut, masyarakat juga bisa bercocok tanam. Yang dilarang adalah aktivitas pertambangan sampai pembangunan rumah dalam skala yang luas.

Sangiran dari Masa ke Masa

Sebetulnya, kenapa Sangiran jadi lahan yang subur untuk temuan fosil purba manusia dan hewan? Harry punya penjelasan tersendiri. Menurutnya, posisi Sangiran yang berada di kaki Gunung Lawu, tepatnya di Lereng Barat, menjadi sebuah area transportasi lokal. Kawasan Sangiran dulunya ketika 1,5 juta tahun lalu adalah rawa.

Setelah itu, rawa berganti menjadi hutan terbuka yang terpengaruhi oleh peristiwa letusan gunung berapi. Peristiwa ini diperkirakan terjadi pada 730 ribu tahun lalu. Hutan yang terbentuk kemudian menimbulkan interaksi kehidupan antara manusia dan binatang.

"Jadi endapan-endapan purba beserta kehidupannya dari lingkungan rawa sampai hutan terbuka berada di Sangiran sampai sekarang," paparnya.

Peta Sangiran (Google Maps)


Setu Wiryorejo (55), warga Desa Manyarejo, Kecamatan Plupuh, Sragen, sudah sejak lahir tinggal di Sangiran. Selama hidupnya, dia sudah berulang kali menemukan fosil purba. Terakhir, temuannya yang paling penting adalah fosil tengkorak atap homo erectus arkaik, manusia purba tertua di Indonesia.

"Saya sudah sering menemukan seperti itu. Tapi kadang tangan, kaki, gigi, atau lainnya. Yang ini lain," kata Setu dalam bahasa Jawa halus kepada detikcom.

Setu sudah punya firasat soal fosil-fosil itu. Selain kerap didatangi lewat mimpi, Setu juga bisa membaca tanda-tanda alam bila menyangkut fosil. Menurutnya, bila terjadi longsor atau sungai banjir, maka hampir pasti akan ada fosil yang terbawa.



Total ada tujuh piagam yang sudah diterima oleh Setu. Dia juga kerap mendapatkan uang. Setu dan warga setmpat sadar, hidup di Sangiran tak harus merusak lahan dengan penggalian gila-gilaan. Sambil mencari nafkah, mereka juga bisa 'berteman' dengan fosil manusia purba. Karena memang tidak mencari, maka temuan itu lebih sering tak terduga.

"Tiap kali menemukan sesuatu saya lapor, petugas langsung mengecek. Kalau memang temuan itu termasuk benda purbakala, ya dibawa dan disimpan mereka," kata bapak 3 anak ini enteng.

(mad/trw)