"Pokoknya uang janganlah dijadikan parameter. Saya tidak setuju ada kontribusi dari caketum, pertama diwacanakan Rp 20 miliar, sekarang jangankan Rp 10 miliar, Rp 5 miliar pun saya tidak setuju. Kalau ada masalah partai ya diselesaikanlah. Kalau misalnya biaya cukup besar ya kita pindah jangan di Bali, di Asrama Haji saja kan gampang," kata Akbar kepada wartawan, Rabu (27/4/2016).
"Pada intinya saya tidak setuju. Berangkat bahwa Golkar ini partai, partai itu kan aliran perjuangan, orang-orang yang semangat memperjuangkan cita-cita dasar. Dalam perjuangan itu tentu ada masalah, kita bisa selesaikan sama-sama," kata mantan Ketum Partai Golkar ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Katakan over cost-nya nanti bisa ditutup, apakah konsumsi, penginapan. Tapi semua kehendak disampaikan saja terbuka. Kalau masalah penyampaian visi-misi kalau perlu setiap caketum diberi kesempatan di depan forum untuk menyampaikan visi-misi, tidak perlu keliling," kata Akbar.
Akbar mengingatkan jika Munaslub selalu identik dengan uang maka tidak baik untuk citra Golkar. Golkar bisa benar-benar ditinggal kalau terus begini.
"Nanti kan opini publik kan jadi tidak baik. Wah, ini partai urusannya cuman uang, nanti citra Golkar merosot, di depan publik keterpilihan Golkar juga menurun. Saya sebagai Wantim akan memberi masukan," tegasnya.
(van/nrl)










































