"Kita dapat membersihkan narkoba dari lapas. Kita adalah ujung akhir persoalan narkoba," ujar Laoly dalam Peringatan Hari Bhakti Pemasyarakatan ke-52 di Lapas Kelas I Cipinang, Jakarta Timur, Rabu (27/4/2016).
Tugas membersihkan narkotika dari Lapas diakui Laoly menjadi pekerjaan berat. Alasannya di sejumlah Lapas ditemukan keterlibatan petugas dalam transaksi atau pun penggunaan narkotika.
"Ada ujian berat karena ada oknum Lapas yang terlibat narkoba. Kepekaaan dan sensitivitas sedang diuji, sikap dan tindakan harus sejalan dengan perjuangan melawan narkoba," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Napi bukan manusia terkutuk, kita perlu secara sadar membina mereka dan kita juga harus menerima krtik karena ada masalah. Kita berpengalaman menangani mereka, banyak (napi) yang keluar jadi orang produktif tapi itu terkubur dalam 2 bulan terakhir," sambungnya.
Hari Bhakti Pemasyarakatan Kemenkum HAM di Lapas Cipinang, Rabu (27/4/2016). Foto: Bisma Alief/detikcom |
Laoly juga menyinggung kerusuhan di Lapas Banceuy, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (23/4) yang menghanguskan bangunan administrasi dan sejumlah kendaraan. Kerusuhan ini menurut Laoly terjadi karena jumlah napi yang melebihi kapasitas muat Lapas dan sedikitnya petugas pengamanan.
"Kita masih punya tugas suci untuk membina para napi dengan segala kompleksitasnya. Komnas HAM meninjau Lapas, dia bilang ini bertentangan dengan HAM. Maka kita harus bekerja sama dengan semua pihak untuk memperbaiki Lapas," sebutnya.
Di tengah segala keterbatasan, Laoly meminta petugas tetap bekerja optimal. Dengan pembinaan yang baik, para napi diyakini punya perilaku baik dan produktif selama menjalani masa pembinaan.
"Saya pesan tetap semangat dan penuh dedikasi, pantang menyerah walaupun di tengah-tengah kurangnya fasilitas. Saya yakin kalian mampu di tengah keterbatasan," tutur Laoly.
(fdn/trw)












































Hari Bhakti Pemasyarakatan Kemenkum HAM di Lapas Cipinang, Rabu (27/4/2016). Foto: Bisma Alief/detikcom