Munaslub Jadi Pertaruhan Hidup Mati Golkar

Jelang Munaslub Golkar

Munaslub Jadi Pertaruhan Hidup Mati Golkar

Bisma Alief - detikNews
Senin, 25 Apr 2016 18:42 WIB
Munaslub Jadi Pertaruhan Hidup Mati Golkar
Foto: Ari Saputra
Jakarta - Partai Golkar akan menggelar Munaslub pada akhir Mei mendatang. Pengamat politik LIPI Siti Zuhro melihat Munaslub sebagai pertaruhan hidup mati Partai Golkar.

"Ini Munas pertaruhan. Golkar harus keluar dari bayang-bayang penggunaan uang. Kalau masih pakai uang bakal stagnan. Karena Golkar belum dipercaya betul oleh masyarakat," kata Siti dalam diskusi politik bertajuk 'Babak Baru Partai Politik Indonesia' di Kantor Jenggala Center, Jl Ciasem 1 No 29, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (25/4/2016).

Menurut Siti, Munas Golkar akan jadi sorotan tajam. Siapa pun tokoh yang muncul sebagai caketumkalau masih punya persoalan akan membuat Golkar jauh ke belakang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Yang ditawarkan harusnya membesarkan institusi. Golkar tertinggal karena fokus pada partai of ideas tapi nggak pernah dilakukan dan cuma muncul saat Pilkada," kata Siti.

Ketum Golkar yang terpilih di Munaslub nanti, ujar Siti, harus membangun budaya politik yang betul-betul menumbuhkan kreativitas kader. Yang tidak didominasi politik uang dan aroma KKN.
 
"Kalau uang juga nomor 1,  saya ragu Golkar keluar dari bayang-bayang masa lalu. Golkar harus merespon deparpolisasi, karena partai lain mencari siapa penyebab deparpolisasi," kata Siti.

Ia juga menyarankan ketum parpol yang baru harus bisa mendekatkan diri  dan mengaitkan demokrasi dengan masyarakat. "Ketum cerminkan role model demokrasi, partai yang buruk adalah partai yang diisi kader yang buruk. Ketum harus menyiapkan kader untuk Pemilu 2019. Seharusnya Golkar tahu dimana melakukan penjaringan yang diinginkan masyarakat, memperluas networking untuk mempromosikan orang-orang yang potensial untuk Pemilu," saran Siti.

"Ego sektoral harus dijauhkan, sekarang harus fokus pada partai. Harus fokus membangun Golkar bukan untuk memperkaya dan menguatkan dirinya sendiri," imbuhnya.

Selain itu, Siti menambahkan, Golkar membutuhkan sosok yang mampu merepresentasikan Golkar secara utuh. Artinya, sosok ketum yang meninggalkan tradisi lama dan melahirkan Golkar baru.

"Munas sebagai momen untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada Golkar. Karena penggunaan uang yang berlebihan adalah sesuatu yang tidak beradab. Penggunaan uang dalam masyarakat sangat serius dan sensitif. Terserah Golkar mau menghalalkan segala cara dengan Munas yang transaksional atau mau memotong mata rantai  menjadikan Golkar baru, nilai dan tradisi baru," pungkasnya.

(van/try)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads