Survei: Mega Ketum PDIP, Guruh Alternatif, Kwik Sekjen
Kamis, 17 Mar 2005 15:48 WIB
Jakarta - Menurut survei, Megawati Soekarnoputri masih pantas menjadi ketua umum PDIP, Guruh Soekarnoputra jadi alternatif jika Mega tidak mencalonkan diri, dan Kwik Kian Gie paling pantas jadi sekjen.Demikian hasil survei "Persepsi kader PDIP menjelang Kongres II tahun 2005" yang disampaikan oleh Yayasan Rekode Indonesia di Hotel Sahid Jaya jalan Sudirman Jakarta Pusat, Kamis (17/3/2005).Survei dilakukan terhadap 1.200 responden di 11 provinsi pada 9-15 Februari 2005 dengan metode wawancara tatap muka. Kesebelas provinsi itu adalah Sumut, Sumsel, Lampung, DKI Jakarta, Jabar, Banten, Jateng, DI Yogyakarta, Jatim, Bali, dan NTT.Hasil survei disebutkan tidak bisa digeneralisasi ke tingkat nasional karena populasinya dibatasi hanya pada daerah-daerah di mana PDIP cukup kuat dalam Pemilu 2004.Hasil survei menyebutkan Nama-nama yang layak menjadi ketua umum PDIP adalah Mega sebanyak 86 persen, Guruh mendapat 9 persen, Kwik 1 persen, dan lain-lain 4 persen.Jika Mega tidak mencalon diri, maka yang paling pantas menjadi ketua umum adalah Guruh sebanyak 70 persen, Kwik 6 persen, Sophan Sophiaan 6 persen, Taufiq Kiemas 4 persen, dan lain-lain 14 persen.Sedangkan yang paling pantas menjadi sekjen adalah Kwik sebanyak 21 persen, Sutjipto 16 persen, Guruh 12 persen, Sophan 10 persen, Pramono Anung 10 persen, Laksamana Sukardi 6 persen, Taufiq Kiemas 5 persen, Arifin Panigoro 4 persen, dan lain-lain 16 persen.Referensi terhadap Mega untuk menjadi ketua umum kembali seperti disebutkan survei, 96 persen mendukung dan menyatakan setuju, 95 persen setuju dipilih kembali, dan hanya 32 persen setuju Mega sebagai ketua dewan pengarah.Survei menyimpulkan, Mega masih diinginkan untuk dicalonkan dan dipilih kembali untuk memimpin PDIP ke depan. Sedangkan mayoritas tidak setuju kalau Mega hanya menjadi ketua dewan pengarah.Jika Mega tidak mencalonkan diri, maka kader PDIP di daerah menghendaki Guruh sebagai gantinya. Alasannya, selisih kekuatan Guruh dengan tokoh lain sangat jauh, dan tokoh yang selama ini membangkang terhadap Mega ternyata tidak populer di mata kader.Sedangkan untuk posisi sekjen, tidak seorangpun mendapat preferensi mutlak, dan ini artinya posisi sekjen malah tergantung pada ketua umum terpilih.KinerjaMengenai kinerja PDIP secara kepartaian dan di legislatif, survei menyimpulkan belum baik. Sehingga kesalahan partai bukan pada pemimpin partai, terkait kurang berhasilnya kinerja partai dalam Pemilu dan dalam mengajak orang lain untuk masuk ke dalam partai.Survei menyebutkan, 40 persen responden menilai PDIP secara umum kurang berhasil dalam Pemilu 2004, 34 persen cukup berhasil, 20 persen tidak berhasil sama sekali, 6 persen sangat berhasil.Soal evaluasi terhadap kinerja partai, 50 persen responden menyatakan Koalisi Kebangsaan merupakan langkah yang salah, 68 persen menilai DPP sudah bekerja keras menyukseskan Pemilu Presiden, 69 persen menilai DPP sudah bekerja menyukseskan Pemilu Legislatif.Namun kemampuan kader PDIP dinilai rendah. Hanya 10 persen responden menilai kader PDIP mampu mendistribusikan atribut, 15 persen mampu meyakinkan orang lain memilih PDIP, 15 persen mampu menghadiri kampanye di hari kerja, 20 persen menyatakan kader mampu mengorganisir massa simpatisan, 27 persen mampu memimpin massa dalam kampanye, 42 persen mampu memberikan sumbangan untuk PDIP.Sedangkan evaluasi terhadap kinerja ketua umum, 93 persen responden menyatakan cukup puas Mega sebagai ketua umum, 89 persen puas Mega sebagai presiden, 87 persen menilai Mega sudah bekerja keras memenangkan Pemilu Legisltaif, 88 persen menyatakan Mega sudah bekerja keras memenangkan Pemilu Presiden.
(sss/)











































