Aroma rencana kunjungan Presiden Jokowi ke Korea Selatan bulan depan sudah lama merebak dan tercium di hidung 40 ribu WNI yang bermukim di Korsel. Beberapa kelompok masyarakat sudah menyatakan antusiasmenya untuk menyambut sang presiden. Bahkan secara bisik-bisik, mereka berkumpul untuk mendiskusikan tema-tema yang akan diangkat ketika dilaksanakan temu kangen dengan masyarakat.
Kegiatan WNI di Korsel (Foto: M Aji Surya/detikcom) |
Maklumlah, masyarakat Indonesia yang berada di Korsel ini pada 80 persennya adalah tenaga kerja yang rata-rata lulusan SMA. Mereka adalah anak-anak muda yang datang dari desa. Tak pelak, rasa "satu kampung" dengan presiden yang berasal dari Solo ini tidak bisa dibendung. Rasa kekeluargaan sesama "wong ndeso" menciptakan kedekatan tersendiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gadget canggih bagi WNI di Korea adalah hal biasa (Foto: M Aji Surya/detikcom) |
Dengan demikian, sebagai anak yang sudah berprestasi, maka pekerja di Korea sangat ingin bisa bertemu dengan bapak ibunya untuk mendengarkan pengakuan secara langsung atau sekedar bermanjaria. Atau bisa jadi mereka ingin juga dibawakan "oleh-oleh" khas tanah air yang diimpikan selama ini.
Salah satu persoalan yang mungkin perlu sentuhan sang bapak adalah pemberdayaan TKI purna. Ada semacam kegalauan yang tinggi diantara pekerja Indonesia di Korea manakala kontrak kerja akan habis. Lebih sepuluh juta rupiah per bulan dapat mereka tabung saat berada di Korea akan tinggal kenangan manakala kakinya menginjak bumi pertiwi. Yang tersisa hanyalah sebuah bencana yang bernama "mantab" atau makan tabungan. Bahkan bisa-bisa "mati" alias makan properti.
WNI juga memiliki peralatan bertumpuk (Foto: M Aji Surya/detikcom) |
Kegalauan yang datang setiap malam itulah yang kemudian melahirkan ribuan overstayers asal Indonesia. Mereka terpaksa main petak umpet dan kucing-kucingan dengan aparat keamanan. Mereka sangat rindu kampung halaman, namun rendahnya jaminan hidup lebih jauh menghantui.
Karenanya, kado terbaik Jokowi saat nanti bertandang ke Korea Selatan adalah pemberdayaan TKI purna. Bukan hanya sebatas janji-janji, namun sudah siap dengan program eksekusi. Bila oleh-oleh sang Bapak ini dianggap merupakan jembatan kehidupan bagi pendulang devisa di Korea yang saat ini tidak berdokumentasi dengan benar, maka mereka pun akan dengan lapang hati untuk pulang dengan biaya sendiri.
Bahkan, kepulangan mereka ini akan melempangkan jalan bagi pemuda-pemuda Indonesia lainnya untuk datang ke Korea menimba ilmu dan Won. Jumlah pendatang tidak berdokumentasi yang menumpuk hanya akan mendorong Pemerintah Korea menghentikan kerjasama pengiriman tenaga kerja Indonesia secara sepihak. Ini pasti tidak menguntungkan kita dan justru menciptakan peluang bagi negara lain. Karenanya, please Pak Presiden, mereka menunggu oleh-oleh terindah dari Bapak. (try/try)












































Kegiatan WNI di Korsel (Foto: M Aji Surya/detikcom)
Gadget canggih bagi WNI di Korea adalah hal biasa (Foto: M Aji Surya/detikcom)
WNI juga memiliki peralatan bertumpuk (Foto: M Aji Surya/detikcom)