"Terorisme bunuh diri itulah yang paling ditakutkan di dunia ini. 35 orang meninggal di Brussels, semua orang di dunia syok dan menjadi berita berhari-hari, berminggu-minggu. Tentu kita sedih, kita menyesalkan 35 orang meninggal. Tapi bagaimana jutaan umat Islam yang mati di Suriah, di Yaman, di Irak, Afghanistan, di Libya, menjadi hal yang biasa. Namun 1 yang meninggal tetap manusia. Itu semua disebabkan karena negara gagal," kata JK dalam pidato penutupan Musabaqah Hafalan Alquran dan Hadis (MHQH) Pangeran Sultan bin Abdul Aziz al Saud tingkat Asia Pasifik di Istana Wapres, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakpus, Kamis (21/4/2016).
Kegagalan negara yang dimaksud JK adalah menjaga perdamaian di wilayahnya dan antar negara. Kemunculan kelompok radikal juga menambah ketidakamanan negara.
"Sekarang jutaan umat Islam hijrah dari negara Islam ke Eropa yang non Islam untuk mencari keselamatan. Kita bisa menangis melihat jutaan orang itu, yang sebagian besar dari mereka meninggal di laut untuk mencari keselamatan. Dalam sejarah, dalam pengalaman kita, semua radikalisme, terorisme berasal dari negara-negara yang gagal khususnya negara-negara Islam yang gagal. Gagal tercerai berai akibat dari dalam dan dihancurkan, dibenturkan dari luar dari negara-negara besar yang menghancurkan," sambungnya.
JK menyebutkan, kegagalan negara Islam menjaga kesatuan banyak kelompok di negaranya dan campur tangan negara lain ikut membuat gerakan radikal terus tumbuh. Tanpa ada kesadaran pimpinan negara yang bersangkutan untuk mengatasi konflik di dalam negerinya maka harapan munculnya perdamaian bakal sulit terwujud.
"Kita memang berterimakasih negara barat menerima pengungsi dari negara Islam, tapi apakah itu yang kita inginkan? Semua sumbernya karena kekacauan yang terjadi di dalam negara Islam sendiri," imbuhnya.
Terkait terorisme, Indonesia menurut JK sudah menerapkan pola penanganan yang baik. Tindakan masyarakat yang toleran dinilai sangat membantu terjaganya persatuan tanpa terpengaruh aksi teror.
"Di Indonesia tentu ada juga radikalisme dan terorisme, tapi dapat diatasi dengan toleransi yang baik.Tiap hari kita bertemu dan kita menyelesaikan salat kita dengan ucapan kedamaian, tiap hari tiap jam kita membicarakan kedamaian. Marilah kita menyelesaikan kedamaian secara bersama-sama," tutur JK.
Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbanyak di dunia disebut JK menjaga perdamaiannya dengan cara mengamalkan ajaran Tuhan untuk menumbuhkan toleransi.
"Di Indonesia sebagai negara penduduk Islam, memang di Indonesia tentu mempunyai banyak kesamaan tapi juga perbedaan-perbedaan. Dalam hal-hal yang wajib dan sunnah pasti sama-sama. Tapi dalam hal pelaksanaan-pelaksanaanya yang wajib dan sunnah banyak perbedaan sesuai dengan kebiasaan dan budaya masing-masing daerah. Itu semua kita hormati atas hal-hal tersebut dan berjalan saling menghormati di antara yang lain," ujar dia.
Persatuan di Indonesia sebut JK tercermin dalam Bhineka Tunggal Ika. Meski punya perbedaan, namun posisinya di negara tetap satu.
"Kita berbeda-beda tapi satu. Bukan hanya dipraktikkan dalam hal pemerintahan dan kenegaraan tapi juga dalam hal beragama. Orang boleh berbeda agama, kita beda dalam cara pelaksanaan (ibadah) yang dilakukan tapi kita satu yaitu Islam, tidak punya perbedaan prinsip. Itulah prinsip-prinsip Indonesia, kita tidak ingin perbedaan-perbedaan itu menjadi konflik. Kita tidak ingin perbedaan itu menjadi tempat kita bermusuhan tapi perbedaan itu menjadi tempat kita bersatu," kata JK.
 (fdn/Hbb)











































