Kisah Eks ABK Benjina di Kampung Halaman: Dikira Sudah Meninggal

Kisah Eks ABK Benjina di Kampung Halaman: Dikira Sudah Meninggal

Ikhwanul Khabibi - detikNews
Kamis, 21 Apr 2016 09:55 WIB
Kisah Eks ABK Benjina di Kampung Halaman: Dikira Sudah Meninggal
Margie Mason Menjelaskan Proses Investigasi (Ikhwanul Habibi/detikcom)
Jakarta - Hingga saat ini, sudah lebih dari 1.500 ABK asing yang bekerja di Benjina dan Ambon telah dipulangkan ke kampung halamannya. Berbagai kisah haru terjadi saat mereka pulang ke rumah. Sebagian keluarga mengira para ABK itu sudah meninggal.

"Banyak dari mereka yang tidak tahu arah jalan pulang. Sama sekali di luar ekspektasi mereka akhirnya bisa kembali ke rumah," kata wartawan Associated Press (AP) Margie Mason saat berbagi kisah di @Amerika, Pasific Place, Jakarta Pusat, Rabu (20/4/2016).

Margie dan rekan-rekannya mengabadikan momen-momen saat para ABK kembali ke rumahnya di perkampungan di Myanmar, Thailand dan Laos. Suasana haru jelas terlihat saat para ABK yang sudah bertahun-tahun pergi itu kembali.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ada seorang ibu yang berteriak-teriak sambil menangis dan kemudian pingsan saat melihat anak lelakinya pulang. Ada juga seorang ibu yang langsung memandikan anaknya setelah bertahun-tahun tak bertemu.

(Baca juga: Kisah Wartawan yang Berhasil Bongkar Praktik Human Traficking di Benjina)

Namun, di antara mereka yang bergembira, ada juga yang harus menelan kesedihan karena anak lelakinya tidak ikut pulang. Para ibu itu hanya mendapatkan kabar bahwa anak lelakinya telah meninggal di Benjina, bahkan sebagian ada yang dibuang ke laut.

Dua orang Warga Negara Myanmar yang pernah menjadi ABK di Benjina dan Ambon kemudian berbagi kisah melalui teleconference yang dilihat langsung Dubes Amerika untuk Indonesia Robert Blake, Mantan Wakil Ketua Satgas Anti Illegal Fishing Yunus Husein dan International Organization for Migration (IOM).

Seorang mantan ABK di Benjina bernama Laimin bercerita betapa bahagianya dia bisa pulang ke rumah. Selama di Benjina, dia sama sekali tidak bisa berkomunikasi dengan keluarga.

"Tahun 2010 saya tiba di Benjina dan tidak tahu Benjina itu di mana dan semua juga tidak tahu. Kami disiksa dan dipaksa bekerja tanpa mengenal waktu," tutur Laimin.

Selama bekerja di Benjina, Laimin tidak mendapatkan bayaran sepeser pun. Padahal, saat akan berangkat, dia dijanjikan bayaran yang menjanjikan oleh perusahaan asal Thailand.

"Saya tidak menerima gaji sama sekali. Kami harus pergi ke hutan dan bersembunyi agar tidak disiksa," ungkapnya.

Nasib berbeda dialami Ako. ABK yang sejak tahun 2004 bekerja di Ambon itu bisa membawa pulang hasil kerja kerasnya, walaupun tidak penuh.

"Keluarga sangat senang sekali. Sebelumnya saya hanya bisa berkhayal bisa pulang karena tidak tahu arah pulang. Akhirnya bisa dipulangkan berkat bantuan Pemerintah Indonesia dan IOM dan dibantu mendapatkan gaji," kata Ako.

Yunus Husein yang saat itu datang langsung ke Benjina dan mengawal pemulangan para ABK menjelaskan, memang agak sulit mengurus gaji para ABK eks Benjina. Pasalnya, mereka bekerja tanpa dokumen kontrak yang jelas dan pihak perusahaan pun terus berkelit.

"Saat saya tiba di Benjina, kami wawancarai 22 orang dan saya tanyakan siapa yang mau pulang. Mereka semua mau pulang, dan tiba-tiba banyak yang datang dari hutan dan pulau lain yang ternyata juga ingin pulang. Akhirnya kami bawa ke Tual dan saat itu kami hanya terpikir keselamatan mereka, belum terpikir soal gaji mereka," kata Yunus.

"Kami juga sangat dibantu IOM, Australia dan Amerika. Terus terang saja pemerintah tidak punya uang untuk memulangkan para ABK, tapi berkat bantuan IOM dan lainnta mereka bisa dipulangkan," urainya.

(Baca juga: Perjalanan Ikan Asli Benjina Sampai ke Supermarket di Amerika) (Hbb/hri)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads