Kisah Wartawan yang Berhasil Bongkar Praktik Human Traficking di Benjina

Kisah Wartawan yang Berhasil Bongkar Praktik Human Traficking di Benjina

Ikhwanul Khabibi - detikNews
Rabu, 20 Apr 2016 23:34 WIB
Kisah Wartawan yang Berhasil Bongkar Praktik Human Traficking di Benjina
Foto: Margie Mason Menjelaskan Proses Investigasi (Ikhwanul Habibi/detikcom)
Jakarta - Masih ingat Benjina? Sebuah daerah di selatan Pulau Maluku yang sempat menggemparkan publik karena menjadi tempat human traficking dan perbudakan.

Awalnya, sangat sekidit orang yang tahu Benjina. Bahkan, orang Indonesia pun kebanyakan tidak tahu posisi persis Benjina.

Mata publik kemudian terbelalak saat 4 wartawan desk investigasi dari Associated Press (AP) membuat laporan mengejutkan tentang praktik perbudakan yang terjadi di Benjina. Ribuan orang asal Myanmar, Thailand dan Laos dipekerjakan dan diperlakukan dengan sangat tidak layak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Empat wartawan itu adalah Margie Mason, Robin McDowell, Martha Mendoza and Esther Htusan. Mereka berempat pergi ke beberapa tempat lintas negara pada 2012-2013 untuk menyelesaikan investigasi yang awalnya hanya bertujuan untuk mengetahui asal muasal produk ikan di Amerika Serikat.

Margie Mason yang ditugaskan untuk meliput di Benjina kemudian berbagi cerita di @Amerika, Pacific Place, Rabu (20/4/2016). Margie menjelaskan proses peliputan yang memakan waktu lebih dari 18 bulan itu.

Cerita berawal ketika AP mendapatkan data tentang praktik illegal fishing yang sangat masif. Kemudian timbul kecurigaan praktik illegal fishing yang dilakukan di Indonesia itu ada kaitannya dengan beberapa perusahan besar di Amerika Serikat.

Dari rasa curiga itu akhirnya diputuskan untuk membuat sebuah laporan investigasi yang menguak proses penangkapan hingga pengolahan udang dan ikan laut lain yang berharga murah saat sampai di Amerika. Laporan itu kemudian diberi judul "Seafood from Slaves".

Margie dan rekannya Robin ditugaskan untuk mengumpulkan data dan informasi dari Benjina. Awalnya, Margie bahkan tidak tahu di mana letak Benjina.

"Benjina adalah tempat yang sangat jauh dari mana pun. Daerah paling dekat adalah Ambon dan sebelah selatannya sudah wilayah Australia," kata Margie membuka ceritanya.

Perjalan ke Benjina ditempuh dalam waktu yang cukup lama. Dari Jakarta, Margie dan Robin menaiki pesawat ke Ambon, setelah itu dilanjutkan dengan pesawat menuju Dobo dan disambung dengan perjalanan laut.
ABK di Benjina Hidup di Kapal Kecil (Foto: Rachmadin Ismail)

Betapa kagetnya Margie saat dia tiba di Benjina. Dia menemukan sebuah kapal kecil yang ditinggali para ABK yang ternyata bukan berasal dari Indonesia. Para ABK itu hidup di kapal sempit yang digambarkan Margie bahkan tak cukup untuk berdiri.

"Pekerjaan mereka setiap hari adalah menangkap ikan sebanyak-banyaknya lalu mengepak ikan untuk diekspor," jelas Margie.

Ternyata, Margie lebih kaget lagi ketika tiba di daratan Benjina. Dia melihat ada seorang laki-laki yang dipenjara. Letak penjara itu berada di area kantor PT Pusaka Benjina Resources.
Penjara ABK di Benjina (Foto: Rachmadin Ismail)

Rasa penasaran sebagai jurnalis pun mendorong Margie dan Robin untuk mencari tahu tentang apa yang terjadi pada para ABK. Ternyata, para ABK yang berasal dari Myanmar, Thailand dan Laos itu mendapat perlakuan kasar, disiksa, dilehcehkan secara seksual, tidak mendapatkan bayaran, bahkan ada beberapa yang terbunuh dan dibuang ke laut.

Setelah mewawancarai beberapa ABK, terkuaklah mereka tidak memiliki dokumen tentang identitas mereka. Meskipun sebagian besar berasal dari Myanmar dan Laos, tapi semua identitas yang dipegang menuliskan bahwa mereka berasal dari Thailand.

"Mereka memegang dokumen palsu, nama palsu, tanggal lahir palsu dan alamat palsu. Semuanya tertulis dari Thailand, padahal jelas mereka bukan orang Thailand," tutur Margie penuh emosi.

Di sudut-sudut Benjina, ditemukan beberapa makam yang ditandai dengan papan yang diberi nama jenazah. "Namun kita tidak tahu sebenarnya siapa yang ada di dalam tanah itu. Bisa saja jasad Myanmar namun nama yang tertulis adalah nama Thailand," tegasnya.
Makam ABK di Benjina (Foto: Rachmadin Ismail)

"Mereka dimasukkan dengan cara illegal dan lekat dengan praktik korupsi," imbuhnya.

Bertahun-tahun bekerja, ribuan ABK itu tidak mendapatkan gaji sedikit pun. Jangankan gaji, bahkan ketika ditanya di mana mereka berada saja mereka tidak tahu. Para ABK juga buta arah jalan pulang. Yang mereka tahu, ada perusahaan asal Thailand yang memperkerjakan mereka sebagai ABK, tapi tak pernah menyangka akan dibawa ke ujung selatan Indonesia.

Tak sedikit ABK yang kabur dan bersembunyi di hutan agar tidak disiksa atau dibunuh. Sudah tak terhitung pula jumlah ABK yang dibuang ke laut dalam keadaan hidup maupun mati.

Laporan dari Margie dan Robin ini kemudian sampai ke telinga Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti dan International Organization for Migration (IOM). Susi yang menggandeng IOM akhirnya memulangkan para ABK ke negara asalnya.

Laporan AP itu kemudian diganjar dengan penghargaan the Pulitzer Prize for public service. Sebuah penghargaan bergengsi untuk sebuah karya jurnalistik. (Hbb/fdn)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini