Pemimpin negara yang ditemui Presiden Jokowi adalah Presiden Jerman Joachim Gauck dan Kanselir Angela Merkel pada Senin (18/4), dan Perdana Menteri Inggris David Cameron pada Selasa (19/4) kemarin.
"PM Cameron katakan Indonesia punya bagian untuk berkontribusi dalam memberantas ekstremisme, radikalisme dan terorisme," ucap menlu Retno di London, Inggris, Rabu (20/4/2016).
(Baca juga: PM Inggris: Islam Diajarkan di Sekolah Indonesia Bisa Jadi Model Bagi Dunia)
Menurut Retno, Indonesia dipandang khas karena memiliki penduduk muslim terbesar di dunia. Tetapi bersamaan dengan itu demokrasi, pluralisme, dan juga toleransi dapat berjalan dengan baik.
"Sehingga dari perjalanan dua negara Jerman dan Inggris, kita melihat ada harapan besar Eropa bagi Indonesia untuk meningkatkan peran dan kontribusi dalam pemberantasan ekstremisme, radikalisme dan terorisme," papar Retno.
"(Indonesia) menjadi laboratorium hidup yang dilihat negara lain, dan negara lain menilai ini aset Indonesia. Tidak banyak negara memiliki aset seperti itu," imbuh mantan Dubes Belanda itu.
Presiden Jokowi, kata Retno, sudah menyampaikan langsung kesiapan Indonesia untuk berkontribusi memerangi ekstremisme, radikalisme dan terorisme. Jokowi juga sudah berbagi pengalaman itu kepada pemimpin negara yang ditemui.
"Kemarin Cameron katakan Inggris ingin kerja sama dengan Indonesia dan terlibat dalam Bali Democracy Forum, karena tema ini sangat relevan dengan kondisi dunia saat ini," kata Retno.
Tema Bali Democracy Forum ke-9 yang akan digelar itu mengangkat tema religis, demokrasi dan terorisme. Forum ini digelar setiap tahun di Indonesia.
(Baca juga: Ini Kata Dubes Inggris soal Keberhasilan Indonesia Hadapi Terorisme) (miq/bag)











































