"Partai ini saya dari awal deklarator, saya mengerti isinya, dinamikanya. Saya tidak pernah punya masalah. Saya sering mengatakan, saya enggak punya catatan," ungkap Fahri di Gedung DPR, Kompleks Senayan, Jakarta, Selasa (19/4/2016).
"Kalau dicatat-catat, Pak Sohibul Iman zaman Pak Anis dulu atau sebelumnya, pernah juga jadi oposan di dalam partai tapi enggak dipecat," lanjutnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada banyak orang yang sekarang di pengurus PKS ini, termasuk yang namanya Abdi Sumaithi dan lain-lain, itu orang-orang yang dulu oposan di zaman Pak Anis. Berbeda pendapat dengan pimpinan," tutur Fahri.
Memang sebelumnya beredar kabar, pemecatan Fahri merupakan salah satu upaya 'bersih-bersih' dari loyalis mantan Presiden PKS Anis Matta, terlebih lagi ada rotasi fraksi di sejumlah alat kelengkapan dewan. Namun Sohibul cs telah membantahnya.
"Ini orang-orang enggak pernah dipecat, dibiarkan saja (walau mengkritik Anis). Toh pendapat yang berbeda ini obat bagi kita. Di zaman ini lah orang yang beda pendapat dipecat semua," ucap Fahri.
"Nggak boleh begitu dong, perbedaan pendapat itu biarkan saja. Orang-orang ini dulu beda pendapat. Termasuk Sohibul Iman itu tukang kritik Anis Matta tapi dibiarin saja. Sekarang kita dibilang harus loyal, satu. Lah dia dulu bagaimana? Dia dulu nggak loyal kok. Kritik, saya tahu dia pengkritik," tambahnya dengan emosi.
Fahri menyatakan Sohibul kala itu mengkritik Anis sama halnya dengan dia yang juga kerap melontarkan kritikan. Ia menyatakan, seharusnya perbedaan pendapat di partai harus dilihat sebagai bentuk demokrasi yang sehat.
"Makanya kalau Sohibul Iman mengatakan istri dan anak saya dibiarkan (tetap bisa beraktivitas di PKS), enggak boleh begitu. Anda juga bisa tersingkir juga dari situ. Karena dari partai dengan individu mesti dipisahkan. Partai mesti kita jaga, tapi individu-individu yang gagal minggir!" ujar legislator dari Dapil NTB itu kesal.
Fahri menyebut, jangan mentang-mentang Sohibul sudah menjadi Presiden PKS, maka bisa berbuat seenaknya dan selalu merasa benar. Ia pun mengutip semboyan dari Louis XIV yang berbunyi, L'etat c'est moi.
(Baca juga: Fahri Ingin Kembali ke PKS, Sohibul Iman: Silakan Kalau Menyadari Kesalahan)
"(Artinya) 'negara adalah aku, partai adalah aku'. Enggak boleh begitu. Kau bisa salah juga. Kau pemimpin partai tapi kau bisa salah juga. Partai kita jaga, tapi orang-orang yang berbuat salah enggak bisa kita jaga," tutur Fahri.
Sebelumnya Sohibul Iman mengatakan, keluarga Fahri masih boleh ikut dalam kegiatan di PKS meski sudah ada keputusan pemecatan itu. PKS tidak akan menghalanginya.
"Kalau keluarganya enggak ada masalah, enggak akan ada yang berbeda. Anak istrinya enggak bersalah ya jadi boleh-boleh saja," jelas Sohibul, Selasa (19/4). (elz/hri)










































