Di Hadapan Para Dubes, Kepala BNPT Bicara Pergerakan Terorisme di Indonesia

Di Hadapan Para Dubes, Kepala BNPT Bicara Pergerakan Terorisme di Indonesia

Jabbar Ramdhani - detikNews
Selasa, 19 Apr 2016 11:09 WIB
Di Hadapan Para Dubes, Kepala BNPT Bicara Pergerakan Terorisme di Indonesia
Foto: Jabbar Ramdhani/detikcom
Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menggelar diskusi membahas perkembangan terorisme dan penanganannya. Diskusi ini juga dihadiri sejumlah duta besar untuk RI di antaranya Pakistan, Belgia, Prancis, Irak, Tunisia dan Turki.

Kepala BNPT Komjen Tito Karnavian dalam paparannya menjelaskan kondisi global mengenai munculnya aksi terorisme. Tito juga membeberkan pergerakan kelompok terorisme dan akar permasalahan yang memunculkan gerakan radikal.  

Menurut Tito, kelompok penganut radikalisme terorisme pertama yang ada di Indonesia adalah Daulah Islamiyah yang hidup dan tumbuh pada periode 1948-1962.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hingga kemudian kelompok ini pecah menjadi 2 bagian yakni Negara Islam Indonesia (NII) dan Jamaah Islamiyah (JI). NII adalah kelompok yang tumbuh beranggotakan orang Indonesia. Sementara JI tumbuh di Indonesia dengan memiliki jaringan ke Al Qaeda di Timur Tengah.

Secara umum, Tito menggambarkan siklus hidupnya kelompok teroris di Indonesia dengan cara terkotak kemudian menjadi terkelompok. Kondisi ini tidak terlepas dari kondisi di dunia global.

Terutama ketika munculnya Islamic State of Iraq Syria (ISIS). Dideklarasikannya Abu Bakr al-Baghdadi sebagai pemimpin global menjadi perubahan perkembangtumbuhan kelompok teroris. Tak terkecuali dengan kondisi di Indonesia.

"Dampak di Indonesia, ini momentum yang sangat lama untuk membangkitkan Daulah Islamiyah," ujar Tito dalam acara bertema "The General Briefing on Counter-Terrorism" ini digelar di Ruang Flores B, Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Selasa (19/4/2016).

Menurut Tito, banyak warga negara dari Indonesia, Filipina, Australia, Amerika Serikat dan negara Eropa lain bergabung dengan ISIS. Mereka berpindah ke Suriah dan Irak.

Dengan pemahaman berpindah negara dan bergabung dengan ISIS sebagai hijrah. Di dalam Islam, hijrah berarti berpindah tempat menuju kehidupan yang lebih baik.

"Ini momentum yang mereka sebut dengan hijrah. Inilah alasan mengapa orang Indonesia, Australia, AS, Filipina menuju pusat gravitasi ke DI. Mereka mengibaratkan hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah," imbuh Tito. (fdn/fdn)


Berita Terkait