Kembalikan DPR pada Akbar

Di Sela Tawuran:

Kembalikan DPR pada Akbar

- detikNews
Kamis, 17 Mar 2005 09:22 WIB
Jakarta - Seperti Anda ketahui, media cetak terbitan Kamis (18/3/2005) ini semuanya memberitakan kisruh di DPR pada Rabu petang kemarin yang nyaris menyulut baku hantam. Satu hal yang menarik, suara rindu pada Akbar Tandjung diteriakkan oleh anggota DPR di sela-sela tawuran itu."Kembalikan (ketua) DPR pada Akbar," demikian suara yang terdengar lewat mikrofon yang ada di meja masing-masing anggota DPR, Rabu kemarin. Tentu saja wajah si pembicara tidak tampak. Suara itu bercampur dengan aneka celetukan anggota DPR lewat mikrofon meja masing-masing. Belum lagi kegaduhan lebih terpusat di sekitar meja pimpinan.Di masa Akbar Tandjung, DPR memang terbilang lebih tertib. Setidaknya, tawuran seperti Rabu kemarin tidak pernah terlihat. Di masa kepemimpinan Agung Laksono yang sekarang, tawuran kemarin adalah yang kedua kalinya. Tawuran pertama terjadi pada 9 November 2004 silam.Banyak kalangan menilai, tawuran itu terjadi akibat lemahnya kepemimpinan Agung Laksono. Wakil Ketua FPKS DPR RI, Mustafa Kamal misalnya, menyayangkan sikap pimpinan sidang yaitu Agung Laksono dkk, yang kurang akomodatif dan tidak melihat perkembangan situasi. "Dalam situasi crowded seperti itu kan bisa dilakukan break untuk lobi-lobi. Dan ini bisa dilakukan. Tetapi kenapa kemarin hal itu tidak dilakukan," katanya dalam rilis yang diterima detikcom, Kamis.Kritik juga disampaikan oleh Effendy Choirie dari FPKB. "Itu karena pimpinan sidang tidak tegas dan terkesan memiliki agenda tersembunyi," ujarnya."Yang dipimpin menjadi liar karena yang memimpin lemah kepemimpinannya dalam mengambil keputusan dan kesimpulan," komentar Wakil Ketua FPKS Zulkieflimansyah.Pengamat politik Ikrar Nusa Bhakti juga menilai kericuhan dalam sidang paripurna DPR RI yang membahas kebijakan kenaikan harga BBM terjadi karena sikap Ketua DPR Agung Laksono yang memaksakan kehendak saat memimpin sidang."Dari body languagenya Pak Agung bukanlah seorang pemimpin. Ia tidak pandai mengakomodasi keinginan anggota dan tidak dapat memposisikan dirinya kapan sebagai seorang Ketua DPR dan kapan sebagai Wakil Ketua Umum Golkar. Bagi saya, Pak Agung sudah sangat berubah semenjak menjadi Wakil Ketua Golkar," ujarnya.Karena lemahnya Agung Laksono memimpin anggotanya, wajar jika sosok Akbar yang kalem namun mampu mengontrol, kini dirindukan di Senayan. (nrl/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads