Tanggal 13 April 2016, rakyat Republik Korea berpesta demokrasi. Pemilihan umum ini tidak main-main karena memperebutkan 253 dari 300 kursi di Majelis Nasional, sementara sisanya, 47 kursi, dialokasikan bagi partai-partai politik berdasarkan azas representasi proporsional. Terdapat 3 partai utama di Korea yakni partai berkuasa Saenuri, Minjoo Party of Korea dan People's Party.
Selain hasil pemilihan umum diumumkan pada hari yang sama, yang cukup unik adalah dalam hal kampanye. Selama beberapa hari dimana diizinkan kampanye, nyaris tidak terlihat pengerahan masa. Jalan-jalan tetap macet normal seperti hari biasa, taman-taman masih diisi dengan para penduduk yang ingin menikmati sinar matahari, plus nyaris tidak terdapat aksi kriminalitas dan kerusuhan. Semua aman terkendali.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yang mungkin sedikit unik adalah, mobil setengah terbuka yang dipakai untuk kampanye itu cukup atraktif baik dari sisi latar belakang maupun lightingnya. Kalau malam, terlihat sangat cerah dan cenderung menggunakan warna yang menyolok. Di bagian belakang, pasti ada gambar sang caleg. Mobil ini boleh berhenti di pojok-pojok jalan dan bahkan berkampanye di tengah kemacetan lalu lintas, sambil jalan tentunya.
Kendaraan kampanye di Seoul (Foto: M Aji Surya/detikcom) |
Suaranya cukup keras karena terdengar dari jarak 500-an meter.Uniknya lagi, kalaupun sang caleg lagi capek atau tidak sempat muter-muter, maka mobil kampanye tetap jalan atau berhenti di perempatan jalan. Karena caleg lagi absen (mungkin lagi ngopi di kafe), maka diputarkanlah kaset pidato sang caleg. Suaranya nyaring tapi tidak ada orangnya. Ini persis seperti mendengarkan pidato di radio, ada suara tapi orangnya tidak nampak. Kampanye yang beginian membuat orang Indonesia tersenyum simpul.
Pemilu di Korsel memang tidak ada seru-serunya. Apalagi tidak ada yang pembagian kaos, pemasangan bendera partai yang berderet-derat, apalagi "serangan fajar". Suasana kampanye relatif normal-normal saja. Bahkan kalau dilihat sekilas, perang di media yang saling "membunuh karakter" tidak nampak. Terasa adem ayem semuanya.Seru dan tidak seru, inilah gaya kampanye legislatif di negeri ginseng. Padahal sejak semula, partai yang berkuasa saat ini sudah ada yang memprediksikan akan tidak mendapatkan suara mayoritas. Dan ternyata dalam perhitungan cepat, benar-benar kalah. Waduh.
Saya pun jadi teringat dengan kampanye Jokowi saat nyalon DKI1. Ia putuskan untuk tidak memasang spanduk sama sekali. Ia bersama Ahok bahkan dikeroyok oleh hampir semua partai. Tapi, justru kesunyian itulah yang memberikan kemenangan kepada keduanya. Jadi, mungkin tidak salah juga kalau di Jakarta nanti tidak perlu kampanye penuh keributan. Cukup yang sunyi-sunyi saja. Jalanan tidak macet dan tindakan vandalisme bisa diredam. (try/try)












































Kendaraan kampanye di Seoul (Foto: M Aji Surya/detikcom)