"Konferensi asia Afrika bisa menjadi contoh, bagaimana negara miskin (Indonesia kala itu) bisa menyelenggarakan konferensi sebesar itu. Bagaiman Ali Sastroamidjojo dan Soekarno menjadi kotak pos kritik. Pengaruh KAA bisa dirasakan masyarakat di Afrika hingga sekarang. Untuk WCF kita ingin demikian, bangsa lain belajar kepada Indonesia tentang mengelola keberagaman," ujar Mendikbud, Anies Baswedan di kantornya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, Senin, (18/4/2016).
Anies menyebutkan, seringkali di berbagai belahan dunia, keeragaman menjadi sumbu terjadinya perpecahan . Indonesia, kata Anies, sebenarnya bisa menjadi contoh kepada negara lain dalam hal mengelola keragaman dalam berbagai hal.
"WCF adalah forum untuk merumuskan landasan kebudayaan dunia untuk membangun dunia yang lebih inklusif dan lestari. Dengan peserta datang beragam latar belakang dan dari berbagai penjuru dunia, kita harap WCF bisa dijadikan ajang pertukaran gagasan," ungkap dia.
"Keberhasilan Indonesia dalam mengelola keanekaragaman adalah sesuatu yang luar biasa. Jadi nanti merekalah yang mengalami ada di Indonesia, mereka akan mengalami bagaimana rasanya ber-Indonesia," sambung Anies.
Forum ini mengambil tema "Culture for an Inclusive Suistanable Planet". Dikatakan Anies, pesan dari tema ini adalah dunia luar akan melihat Indonesia sebagai rumah kebudayaan yang kaya. Masyarakat dunia, khususnya Indonesia dengan diselenggarakannya acara ini diharapkan Anies bisa melihat budaya tidak semata sebagai warisan dan menempatkan budaya sebagai elemen dasar atas masa depan.
"Budaya menjadi elemen paling mendasar untuk masa depan. Rumah kebudayaan Indonesia ini memiliki banyak komponen , kita menyaksikan bagaimana eksositem begaimana masyarakat dan lingkungan yang membentuk kebiasaan yang berakhir menjadi kebudayaan," tutur Anies.
"Forum ini kita berharap bukan sekadar menjadi negara tuan rumah menyelenggarakan sebuah eve t, kita berharap menjadi tempat dari seluruh dunia untuk interaksi dan belajar dari Indonesia," imbuhnya.
Anies berharap masyarakat kedepannya Indonesia bisa menstrukturkan pengalaman pengalaman lokal yang biasa disebut kearifan lokal menjadi nilai nilai yang diambil secara global. Ia mencontohkan, bagaimana keunggulan bangsa-bangsa di Eropa Barat beberapa dekade yang lalu saat mampu menterjemahkan kebudayaan lokalnya ke dalam bahasa sosial yang modern.
Pengalaman tersebut menjadi teori ilmu sosial yang mempengaruhi banyak negara dalam mengkonsep pembangunan, termasuk Indonesia.
"Tugas kita menterjemahkan kearifan lokal ini ke dalam bahasa global, sehingga bisa dipakai ke seluruh dunia.
Output kita adalah menempatkan kembali Indonesia dalam radar percakapan dunia. Indonesia bisa menjadi rujukan kebudayaan bagi dunia," ungkapnya. (rvk/rvk)











































