"Kita mawas diri juga. Dalam hal ini laku dijual tidak? Kita punya kader berkualitas seperti Sandiaga Uno, Biem Benyamin. Semua kita pertimbangkan," ujar Arief saat dihubungi, Senin (18/4/2016).
Dia menekankan, sebagai parpol, Gerindra tentu punya strategi untuk Pilkada. Kapabilitas, akseptabilitas kader atau sosok yang diusung menjadi penilaiannya. Selain itu, aspirasi masyarakat terhadap Pilgub DKI juga harus didengar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian, dia juga menyebut pesan Ketua Umum DPP Gerindra Prabowo Subianto terkait Pilgub DKI agar partai hati-hati. Sebagai barometer nasional, Prabowo melihat Pilgub DKI merupakan ajang penting yang jangan sampai salah membuat keputusan.
"Beliau (Prabowo) sangat concern, sangat hati-hati sekali soal ini. Bagaimana komitmen partai karena ini adalah Jakarta adalah barometer nasional," sebutnya.
Lantas, ia menambahkan bila Gerindra tak ingin kejadian seperti Ahok yang mengundurkan diri dari partai terulang kembali. Kejadian ini sudah membuat Gerindra kecewa yang telah berjuang dalam Pilkada 2012.
"Gerindra itu tidak pungut bayaran. Malahan Gerindra mendanai, membantu saat kampanye. Bagaimana manifesto Gerindra harus dijaga," tuturnya.
Seperti diketahui, hingga hari ini, sudah ada beberapa sosok yang masuk nominasi Gerindra untuk Pilkada DKI 2017. Ada kader internal partai seperti Sandiaga Uno, Biem Benyamin. Tokoh eksternal yang dimasukkan bursa di antaranya adalah Yusril Ihza Mahendra, musisi Ahmad Dhani, pengusaha Hasnaeni, Ketua DPD DKI Partai Demokrat Nachrowi Ramli, Mantan Menpora Adhyaksa Dault, dan Wakil Ketua DPRD DKI Abraham 'Lulung' Lunggana.
Belakangan, Gerindra melirik mantan Pangdam Jaya Letjen (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin dan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Moeldoko. Nama yang terakhir disebut menyatakan tak terpikir untuk jadi cagub DKI. (hty/tor)











































