DPR, Taman Kanak-kanak atau...?

DPR, Taman Kanak-kanak atau...?

- detikNews
Kamis, 17 Mar 2005 08:00 WIB
Jakarta - Kericuhan antarwakil rakyat kembali terjadi. Kali ini terjadi dalam rapat paripurna DPR pada Rabu (16/3/2005) sore kemarin yang membahas sikap dewan tentang kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak.Abdurrahman Wahid alias Gus Gur saat menjadi presiden pun pernah mengolok-olok DPR sebagai taman kanak-kanak alias TK. Kemudian, saat terjadi perseteruan Koalisi Kerakyatan dan Koalisi Kebangsaan dalam memperebutkan posisi ketua DPR dan MPR, Gus Dur menilai DPR telah melorot menjadi taman bermain alias playgroup.Kini, entah olok-olok apalagi yang akan dipakai Gus Dur untuk menyindir DPR. Yang jelas banyak pembaca detikcom yang sebal dengan ulah wakil rakyat yang terhormat itu dan setuju dengan Gus Dur.Adrianus Dany Wr, misalnya, menyatakan tidak salah jika DPR disebut taman kanak-kanak. "Tapi yang lebih tepat adalah SLB (Sekolah Luar Biadab), sungguh mereka tidak punya etika, baik sebagai Wakil Rakyat atupun orang terpelajar," katanya.Menurut HelpDesk PT. Tirta Investama ini, MPR/DPR harus lebih mempertegas dan menjalankan aturan yang telah dibuat. Dan setiap pelanggaran harus di tindak dengan tegas. "Semoga dengan kejadian ini, rakyat yang telah memilihnya untuk tidak memilih kembali. Begitu juga untuk partainya yg tidak memberikan sanksi kepada anggotanya."Pembaca lainnya, Deni Suparlan, mengaku tidak habis pikir dengan ulah para wakil rakyat tersebut. "Segala permasalahan selalu ada cekcok dan adu otot bukanya mencari solusi. Sejak dipilih sampaisekarang belum ada kebijakan yang bela rakyat, yang ada malah minta naik gaji. Huh memalukan," tukasnya.Ahmad Noor, mengomentari masalah ini dengan bercanda. Menurutnya, seringnya terjadi kericuhan di DPR menyiaratkan adanya potensi tersembunyi sejumlah anggota DPR untuk menjadi petinju. "Jadi nanti harus disediakan ring di luar ruang sidang yang diperuntukkan bagi anggota yang tidak puas sebagai bentuk penyaluran, daripada ngerusak meja dan mecahin gelas," ledeknya.Jadi, semua pembaca sebal dengan ulah anggota DPR yang doyah ricuh? Tidak juga, sih. Pembaca lainnya, Johanes Simamora, menilai sikap anggota DPR yang maju ke meja pimpinan sidang dapat dipahami karena mereka merasa diulur-ulur dalam pengambilan keputusan."Kalau teman-teman pembaca jadi anggota DPR bagaimana? Bagaimana kalau hak Anda diulur-ulur? Tahu diri dulu dong aku malah kesal baca surat pembaca tentang DPR. Kan udah tahu kalo masalah ini diundur-undur, ya jelaslah secara akal akan ada emosi yg muncul," katanya mengkritisi pembaca lainnya yang mengecam sikap anggota DPR.Sementara Wasis Widjajadi menilai kericuhan di DPR ini sebagai Bad News is a Good News. Sebab tawuran anggota DPR bukan hal yang aneh di negara lain. Di Jepang, Korea, dan Amerika Latin sudah sering ditayangkan insiden seperti ini."Yang perlu di-blow out adalah kinerja kejaksaan, kepolisian, dan aparat lainnya. Mana yang dimasukkan penjara?" demikian Johanes Simamora mengingatkan tentang masalah lain yang tak kalah penting daripada soal kericuan di DPR itu. (gtp/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads