TNI Ajak Malaysia Kembali Patroli Bersama di Selat Malaka
Kamis, 17 Mar 2005 00:23 WIB
Jakarta - Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto meminta pemerintah Malaysia dan Singapura untuk kembali melakukan patroli bersama di Selat Malaka menyusul terjadinya aksi perompakan terhadap sebuah kapal tunda milik Jepang Senin (14/3/2005) kemarin.Jenderal Endriartono Sutarto, yang ditemui wartawan usai sidang kabinet di Kantor Presiden, Jl. Medan Merdeka Utara, Jakarta, Rabu (17/3/2005), pun meminta Malaysia untuk membedakan masalah ini dengan persengketaan di Ambalat. "Saya sudah mencoba berkomunikasi dengan pihak Malaysia untuk membedakan antara kasus Ambalat dengan Malaka. Ambalat biarkan masalah Ambalat, untuk Selat Malaka kita lanjutkan sesuai dengan kesepakatan melakukan patroli terkoorindasi bersama," katanya.Menurut Tarto, antar Kepala Staff AL ketiga negara sudah saling kontak dan bertukar informasi untuk melawan perompak. Indonesia, Singapura dan Malaysia memiliki perjanjian untuk patroli bersama dan terkoordinasi di Selat Malaka. "Selama ini dengan adanya patroli bersama yang selama ini kita kelola, kasus kriminal, seperti perompakan di Selat Malaka sudah jauh menurun. Tapi tiba-tiba muncul dua kasus dalam waktu berdekatan, bersamaan dengan sengketa Ambalat," ujarnya.Jadi perompak ini memanfaatkan konflik antara RI-Malaysia? "Iya. Barangkali karena perhatian sekarang lebih banyak ke Ambalat, dan hubungan dengan sedang Malaysia tidak terlalu bagus. Maka saya mengajak Malaysia, bahwa meski ada kasus Ambalat, pengamanan selat malaka harus tetap berlangsung sesuai kesepakatan bersama, yaitu patroli bersama," tegas TartoSementara soal motif lain di luar ekonomi, Tarto mengaku belum tahu. "Belum tahu," ujarnya pendek. Lebih lanjut dijelaskan Tarto, berdasar laporan sementara KSAL tadi pagi kapal perompaknya terdeteksi datang dari Malaysia. Tapi masih belum pasti apakah pelakunya warga negara Malaysia. "Kita masih mengejar. Mereka belum tertangkap. Perompakan pun terjadi di perairan Malaysia. Tapi larinya ke wilayah kita. Jadi kasus ini terjadi di dua territory," ujar Tarto.Karena kasusnya terjadi di dua wilayah negara, lanjut Tarto, untuk menanganinya perlu kerja sama yang baik antara Indonesia dengan Malaysia. Karena itu hubungan untuk pengamanan Selat Malaka terus dipelihara."Yang kita inginkan agar pengamanan Selat Malaka jangan dikaitkan dengan Ambalat. Tapi tetap seperti kesepakatan semula. Patroli bersama," tegas Tarto.Sementara soal tawaran bantuan alat navigasi dan patroli dari Jepang untuk pengaman Selat Malaka, Tarto menyatakan bantuan fisik seperti itu harus dengan kesepakatan ketiga negara. "Itu yang belum saya ketahui, sampai sejauh mana pemerintah Jepang menawarkan bantuan. Apa kapal mereka dibawa kesini atau dalam bentuk lain," demikian Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto.
(gtp/)











































