"Pertemuannya nggak terencana. Bahas ngalor ngidul, kita banyakan dengar saja. Berbagi pengalaman nostalgia. Cerita KMP-KIH dan suasananya cair, enggak ada bahas reklamasi," ujar Selamat saat berbincang dengan detikcom, Jumat (15/4/2016).
Politikus PKS ini juga menyebut kala itu di kediaman Aguan mereka hanya minum teh bersama. Dirinya menegaskan, tidak ada pembahasan reklamasi apalagi bagi-bagi uang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengaku baru kali itu bertemu langsung dengan Aguan. Setelah pertemuan tersebut, dirinya tidak pernah kontak-kontakan dengan Aguan.
"Setelah itu saya enggak tahu ada apa lagi. Saya enggak pernah kontak-kontakan. Kita tahu diri kan bukan Balegda, saya cuma mantan ketua Pansus," kata Selamat tanpa merinci apa pansus yang dimaksudnya.
Selamat mengaku diajak oleh Prasetio ikut bertemu dengan Aguan. Pertemuan yang berlangsung di kediaman Aguan kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara, pada akhir 2015 itu berlangsung hanya 30 menit.
Selamat sudah diperiksa penyidik KPK terkait dugaan suap reklamasi DKI Jakarta. Oleh penyidik, dia mengaku ditanya soal kenal atau tidak dengan Aguan. Namun tidak pernah ditanyakan soal pertemuan ini.
Selain Selamat, M Taufik, Prasetio dan Ongen juga sudah diperiksa KPK. Mereka semua membantah terlibat suap.
Kasus ini terkuak setelah anggota DPRD M Sanusi ditangkap karena diduga menerima suap Rp 2 miliar yang diberikan dalam 2 termin oleh PT Agung Podomoro Land. Barang bukti yang diamankan KPK saat operasi tangkap tangan sebesar Rp 1,140 miliar.
KPK sudah memeriksa Aguan terkait kasus dugaan suap terkait reklamasi pada Rabu (13/4). Dalam kasus ini, KPK telah menetapkan 3 orang tersangka yakni M Sanusi selaku Ketua Komisi D DPRD DKI dan Presiden Direktur PT Agung Podomoro Land (PT APL) Ariesman Widjaja serta Trinanda Prihantoro selaku Personal Assistant di PT APL.
detikcom mencoba mengkonfirmasi soal pertemuan ini ke tiga politisi lainnya, termasuk Prasetio, namun belum ada respons. (aws/mad)











































