Arti Minoritas dan Mayoritas bagi Anton, Muslim-Tionghoa yang Jadi Wali Kota

Mencari Cagub DKI Terbaik

Arti Minoritas dan Mayoritas bagi Anton, Muslim-Tionghoa yang Jadi Wali Kota

Muhammad Aminudin - detikNews
Jumat, 15 Apr 2016 14:27 WIB
Arti Minoritas dan Mayoritas bagi Anton, Muslim-Tionghoa yang Jadi Wali Kota
Foto: Muhammad Aminudin/detikcom
Malang - Mochamad Anton (51) atau biasa disapa Abah Anton, sudah 2,5 tahun ini menjadi Wali Kota Malang. Keturunan Tionghoa ini pelan-pelan berhasil menata kota. Beragam prestasi diraih. Siapa Anton dan bagaimana ia meraih sukses?

Anton berlatar belakang pengusaha dan aktif di Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) dan Nahdlatul Ulama (NU). Di Pilkada Malang, dia berpasangan dengan Sutiaji. Keduanya diusung oleh PKB beserta sejumlah partai. Mereka menumbangkan pasangan yang diusung partai besar seperti PDIP, Golkar, PPP. Pasangan ini dilantik pada 13 September 2013.

"Tidak ada kata minoritas atau mayoritas, semangat saya adalah Arema (Arek Malang)," kata AntonΒ  menjawab detikcom tentang posisinya sebagai wali kota di tengah warga yang heterogen,Β  Jumat (15/4/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Anton memiliki nama lain Goe Hing An. Dia merupakan wali kota pertama Malang dari etnis Tionghoa.

Awal-awal menjabat, Anton memprogramkan temu warga kampung. "Karena tanpa komunikasi yang baik, pembangunan dan kesejahteraan masyarakat hanya akan jadi rencana," jelas Anton.

"Tidak ada jenjang antara praja dan masyarakat," tambah Anton soal posisinya di tengah masyarakat masyarakat.

Setiap dua pekan sekali, Anton datang menemui warga dengan menyusuri perkampungan. Berbagai masalah seperti jalan rusak, pengangguran, kemiskinan, rumah tak layak huni, atau pun anak putus sekolah, dia temukan.

"Saya lebih senang begitu, berpindah terus dari kelurahan satu ke kelurahan lain," terangnya.

Foto: M Aminudin/detikcom

Selama 2,5 tahun kepemimpinan Anton, Kota Malang meraih segudang prestasi. Mulai dari Kota Layak Huni dan Anak, Revitalisasi Taman serta fasilitas publik sebagai wahana rekreasi gratis, Gerakan Menabung Air (GEMAR), Bank Sampah Malang, dan Adiwiyata Mandiri, Piala Adipura dan sederet prestasi lain.

Di bidang investasi, indeks Kota Malang sebesar 77,32 dan berada di atas indeks nasional 73,55. Pada kategori pelayanan publik, kota ini juga mendapatkan indeks tertinggi untuk Jawa. Sementara untuk pelayanan dasar tingkat kelurahan, Kota Malang pada 2014 dan 2015 meraih penghargaan terbaik tingkat nasional.

Angka kemiskinan turun. Awal Anton menjabat kemiskinan sebesar 4,48 persen, saat ini menjadi 4,20 persen dari total penduduk Kota Malang sebesar 800 ribu jiwa.

Selain itu, Anton juga menekan penggunaan dana APBD. Caranya bekerja sama dengan swasta. Revitalisasi taman misalnya, ia memanfaatkan dana Corporate Social Responsibility (CSR). Bagi dia, kepala daerah harus dapat menjadi sales bagi daerahnya.

"Harus seperti sales. Jangan pernah malu, kalau semua untuk masyarakat," tandasnya.

Banyak pihak mendorong kepala daerah yang berhasil membangun daerah untuk maju di Pilgub DKI 2017. Bahkan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) berharap kepala daerah yang sukses ikut meramaikan Pilgub DKI supaya warga Ibu Kota punya banyak pilihan calon kepala daerah.

Selain Anton, ada beberapa kepala daerah yang dinilai berhasil memimpin daerahnya antara lain Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, Bupati Batang Yoyok Riyo Sudibyo,Β  Bupati Bojonegoro Suyoto, Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, dan Wali Kota Pangkal Pinang Irwansyah.

Memang tak semuanya menyatakan siap maju Pilgub DKI, namun prestasi mereka memimpin daerah menjadi nilai plus jika maju ke jenjang lebih tinggi. Siapa bakal jadi cagub DKI terbaik? (trw/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads