Emas hijau sendiri merupakan program budidaya pohon atau tanaman, sementara emas biru merupakan program budidaya ikan. Keduanya merupakan andalan Kodam Pattimura.
Sukses dengan pelatihan dan sejumlah program emas biru, kini Kodam Pattimura sedang mengembangkan sebuah teluk menjadi tempat penampungan ikan, mengingat di wilayah Maluku dan Maluku Utara ada banyak potensi alam yang sangat mendukung.
"Kegiatan ini merupakan salah satu program 'emas hijau dan biru' yang menjadi andalan Kodam untuk membantu usaha-usaha dalam mengatasi kesulitan rakyat di sekelilingnya sebagai mana yang diamanatkan dalam 8 Wajib TNI," ungkap Kapendam XVI/Pattimura Kolonel Arh M Hasyim Lalhakim kepada detikcom, Kamis (14/4/2016).
Pilot Project Keramba Teluk di Pulau Lifumatola. Foto: Dok. Kodam Pattimura |
"Pulau Lifumatola memiliki banyak teluk yang tidak memiliki nama. Merupakan daerah cagar alam yang dapat ditempuh 2 jam perjalanan dari kota Sanana ibukota Kepulauan Sula dengan menggunakan speed yang hanya dihuni oleh masyarakat nelayan keturunan Buton di Desa Waisum," jelas Hasyim.
"Penamaan Teluk Pangdam berawal dari kunjungan Pangdam pada bulan September 2015 ke tempat tersebut yang mengetahui bahwa teluk-teluk yang ada belum memiliki nama dan langsung memerintahkan staf Kodam mengajukan surat ke Pemkab Sula yang saat itu dijabat oleh Plt. Drs Safrin Gailea untuk meminta ijin pengelolaan kawasan teluk dan memberi nama," lanjutnya.
Pilot Project Keramba Teluk di Pulau Lifumatola. Foto: Dok. Kodam Pattimura |
Niat dari Keramba Teluk ini sebenarnya bukan hanya sekedar menambah pemasukan warga. Melalui budidaya ikan, warga setempat diajarkan untuk bisa mengelola potensi alam yang sangat menakjubkan di daerah mereka. Seperti diketahui, daerah Maluku dan Maluku Utara dicanangkan sebagai lumbung ikan nasional.
Warga bersama-sama menyiapkan jaring untuk keramba teluk. Foto: Dok. Kodam Pattimura |
Kodam Pattimura mengirimkan sejumlah personelnya untuk membantu warga untuk pembuatan Keramba Teluk tersebut, termasuk juga memberikan pelatihan dan pendampingan kepada warga secara terus menerus. Namun terlepas dari itu, kata Hasyim, program ini juga sekaligus sebagai upaya menjaga kedaulatan negara.
"Pengawasan terhadap pulau-pulau kecil dan terluar sangat minim di wilayah Maluku dan Maluku Utara. sebagai ilustrasi Pulau Lifumatola yang luasnya 150 Km2 tidak ada sinyal dan air tawar. Dihuni oleh 86 KK dan 524 jiwa dan hanya ditemani seorang Babinsa Sertu Amir Abd Rachman," tuturnya.
Program Keramba Teluk juga sekaligus sebagai perwujudan menjaga kedauluatan NKRI. Foto: Dok. Kodam Pattimura |
Diceritakan Hasyim, pada tahun 2011, empat orang anggota kepolisian tewas saat mengejar nelayan asing yang masuk wilayah NKRI, termasuk Kapolsek Sanana. Jenazah sang kapolsek ditemukan di sekitar Pulau Lifumatola, sementara tiga lainnya sampai sekarang jenazahnya belum ditemukan.
"Kodam XVI/Pattimura telah menempatkan satu regu pasukan yang bertugas di sana sebagai pengamanan daerah rawan," tutup Hasyim. (elz/bal)












































Pilot Project Keramba Teluk di Pulau Lifumatola. Foto: Dok. Kodam Pattimura
Pilot Project Keramba Teluk di Pulau Lifumatola. Foto: Dok. Kodam Pattimura
Warga bersama-sama menyiapkan jaring untuk keramba teluk. Foto: Dok. Kodam Pattimura
Program Keramba Teluk juga sekaligus sebagai perwujudan menjaga kedauluatan NKRI. Foto: Dok. Kodam Pattimura