Cara Kodam Pattimura Jaga Daerah Rawan Sambil Kembangkan 'Emas Biru'

Cara Kodam Pattimura Jaga Daerah Rawan Sambil Kembangkan 'Emas Biru'

Elza Astari Retaduari - detikNews
Kamis, 14 Apr 2016 03:20 WIB
Cara Kodam Pattimura Jaga Daerah Rawan Sambil Kembangkan Emas Biru
Mayjen Doni (berseragam hijau) saat meninjau program keramba apungnya di Ambon. (Foto: Elza Astari Retaduari/detikcom)
Jakarta - Kodam XVI/Pattimura memiliki program emas hijau dan emas biru di bawah pimpinan Mayjen TNI Doni Monardo. Terbaru, Kodam Pattimura kini mengembangkan program Keramba Teluk.

Emas hijau sendiri merupakan program budidaya pohon atau tanaman, sementara emas biru merupakan program budidaya ikan. Keduanya merupakan andalan Kodam Pattimura.

Sukses dengan pelatihan dan sejumlah program emas biru, kini Kodam Pattimura sedang mengembangkan sebuah teluk menjadi tempat penampungan ikan, mengingat di wilayah Maluku dan Maluku Utara ada banyak potensi alam yang sangat mendukung.

"Kegiatan ini merupakan salah satu program 'emas hijau dan biru' yang menjadi andalan Kodam untuk membantu usaha-usaha dalam mengatasi kesulitan rakyat di sekelilingnya sebagai mana yang diamanatkan dalam 8 Wajib TNI," ungkap Kapendam XVI/Pattimura Kolonel Arh M Hasyim Lalhakim kepada detikcom, Kamis (14/4/2016).

Pilot Project Keramba Teluk di Pulau Lifumatola. Foto: Dok. Kodam Pattimura
Pilot Project untuk Keramba Teluk ini berada di Teluk Pangdam yang berada di Pulau Lifumatola di Kepulauan Sula, Maluku Utara. Program ini berawal dari kunjungan kerja Pangdam Pattimura Mayjen Doni Monardo ke beberapa pulau yang tersebar di Provinsi Maluku dan Maluku Utara yang banyak memiliki teluk serta potensi perikanan yang cukup tinggi.

"Pulau Lifumatola memiliki banyak teluk yang tidak memiliki nama. Merupakan daerah cagar alam yang dapat ditempuh 2 jam perjalanan dari kota Sanana ibukota Kepulauan Sula dengan menggunakan speed yang hanya dihuni oleh masyarakat nelayan keturunan Buton di Desa Waisum," jelas Hasyim.

"Penamaan Teluk Pangdam berawal dari kunjungan Pangdam pada bulan September 2015 ke tempat tersebut yang mengetahui bahwa teluk-teluk yang ada belum memiliki nama dan langsung memerintahkan staf Kodam  mengajukan surat ke Pemkab Sula yang saat itu dijabat oleh Plt. Drs Safrin Gailea untuk meminta ijin pengelolaan kawasan teluk dan memberi nama," lanjutnya.

Pilot Project Keramba Teluk di Pulau Lifumatola. Foto: Dok. Kodam Pattimura
Teluk Pangdam sendiri memiliki luas 10 hektar dengan kedalaman rata-rata 27 meter yang memungkinkan untuk dibuat sebagai kandang ikan atau bisa juga disebut keramba teluk. Potensi laut di Pulau tersebut pun sangat besar di mana dari hasil kunjungan Pangdam Pattimura diketahui, nelayan-nelayan setempat mencari ikan di sekitar lokasi teluk dan hasil tangkapannya berupa berbagai jenis ikan karang. Biasanya dijual ke pengumpul seharga Rp 6-13 ribu.

Niat dari Keramba Teluk ini sebenarnya bukan hanya sekedar menambah pemasukan warga. Melalui budidaya ikan, warga setempat diajarkan untuk bisa mengelola potensi alam yang sangat menakjubkan di daerah mereka. Seperti diketahui, daerah Maluku dan Maluku Utara dicanangkan sebagai lumbung ikan nasional.

Warga bersama-sama menyiapkan jaring untuk keramba teluk. Foto: Dok. Kodam Pattimura
"Diharapkan pengembangan kawasan teluk menjadi keramba teluk dapat membantu masyarakat sekitar untuk menjual hasil tangkapannya lebih tinggi daripada pengumpul dan memiliki tempat cadangan ikan bila musim melaut yang kurang baik," jelas Hasyim.

Kodam Pattimura mengirimkan sejumlah personelnya untuk membantu warga untuk pembuatan Keramba Teluk tersebut, termasuk juga memberikan pelatihan dan pendampingan kepada warga secara terus menerus. Namun terlepas dari itu, kata Hasyim, program ini juga sekaligus sebagai upaya menjaga kedaulatan negara.

"Pengawasan terhadap pulau-pulau kecil dan terluar sangat minim di wilayah Maluku dan Maluku Utara. sebagai ilustrasi Pulau Lifumatola yang luasnya 150 Km2 tidak ada sinyal dan air tawar. Dihuni oleh 86 KK dan 524 jiwa dan hanya ditemani seorang Babinsa Sertu Amir Abd Rachman," tuturnya.

Program Keramba Teluk juga sekaligus sebagai perwujudan menjaga kedauluatan NKRI. Foto: Dok. Kodam Pattimura
Sementara itu menurut Hasyim, perangkat daerah lainnya seperti lebih memilih tinggal di Sanana, Ibukota Kepulauan Sula. Tak ada Babinkamtibnas dan kepala desa di sana. Sehingga kawasan tersebut sering menjadi daerah tangkapan ikan bagai nelayan asing.

Diceritakan Hasyim, pada tahun 2011, empat orang anggota kepolisian tewas saat mengejar nelayan asing yang masuk wilayah NKRI, termasuk Kapolsek Sanana. Jenazah sang kapolsek ditemukan di sekitar Pulau Lifumatola, sementara tiga lainnya sampai sekarang jenazahnya belum ditemukan.

"Kodam XVI/Pattimura telah menempatkan satu regu pasukan yang bertugas di sana sebagai pengamanan daerah rawan," tutup Hasyim. (elz/bal)


Berita Terkait