Hujan Interupsi Ramaikan Sidang Paripurna DPR Soal BBM

Hujan Interupsi Ramaikan Sidang Paripurna DPR Soal BBM

- detikNews
Rabu, 16 Mar 2005 16:18 WIB
Jakarta - Sidang paripurna DPR kembali dibuka dan dilanjutkan pukul 15.30 WIB. Begitu sidang dibuka oleh pimpinan sidang Ketua DPR Agung Laksono, hujan interupsi langsung terjadi. Hasil konsultasi pimpinan DPR dan fraksi dicoba dimentahkan kembali. Sidang paripurna digelar di ruang rapat paripurna gedung Nusantara II, gedung DPR, Jl. Gatot Subroto, Rabu (16/3/2005). Saat memimpin sidang, Agung Laksono didampingi oleh dua wakil ketua DPR, yaitu Zainal Ma'arif dan Muhaimin Iskandar. Setelah Agung membuka sidang, anggota FPDIP Ario Bimo langsung menyampaikan interupsi. Dia meminta klarifikasi atas tindakan Zainal Ma'arif saat menjadi pimpinan sidang dalam sidang paripurna pada Selasa (15/3/2005) malam. Dalam sidang itu, Zainal memutuskan meskors sidang secara sepihak. "Seharusnya, skors itu adalah keputusan paripurna. Bagaimana kita bisa menghargai paripurna bisa memutuskan hal-hal penting," kata adik kandung Pramono Anung ini dengan lantang. Atas interupsi ini, Agung menjawab, "Keputusan skors adalah tindak lanjut dari forum konsultasi yang tidak berhasil mencapai kesepakatan kecuali untuk menunda pelaksanaan sidang." Ario Bimo tidak puas dengan jawaban Agung. Dia kembali menginterupsi mempertanyakan keabsahan forum konsultasi. "Apakah forum konsultasi bisa meredusir forum rapat paripurna?" tanya dia. Atas interupsi beruntun Ario Bimo ini, Agung membenarkan bahwa paripurna adalah forum tertinggi. Mendapat jawaban yang agak tidak nyambung itu, Ario Bimo pun menyudahi interupsinya. Sidang kemudian dilanjutkan dengan pembacaan hasil rapat konsultasi antara pimpinan DPR dengan pimpinan fraksi yang berlangsung pada Rabu pagi. Agung menyampaikan bahwa rapat konsultasi menyepakati bahwa akan dilakukan voting dengan dua pilihan, A dan B. Pilihan A adalah menyerahkan pembahasan lanjutan tentang kenaikan harga BBM kepada alat-alat kenaikan harga BBM kepada alat-alat kelengkapan dewan (komisi VII, Komisi XI, dan Panitia Anggaran. Pilihan B adalah sidang paripurna mengambil sikap menolak atau menerima tentang kenaikan harga BBM itu. Namun, seusai menyampaikan hasil ini, hujan interupsi kembali terjadi. Effendy Choirie dari FKB mempertanyakan tentang hasil rapat konsultasi itu. "Tidak ada keharusan kami untuk menerima hasil rapat konsultasi. Ini dimaksud untuk mengakomodir semua kemungkinan. Tetapi, kalau cermat, seharusnya sidang paripurna ini bisa melihat sikap fraksi kemarin, ada yang menolak dan ada yang menerima. Karena kedaulatan tertinggi dewan adalah rapat paripurna. Mohon pimpinan jangan mendistorsi," kata Effendy. Ario Bimo juga menyahuti interupsi Effendy Choirie itu. "Seharusnya pimpinan langsung memilih aklamasi atau voting mengenai sikap DPR, apakah menerima atau menolak kenaikan harga BBM itu," tegasnya.Sampai pukul 16.00 WIB, sidang masih berlangsung dengan hujan interupsi mempertanyakan keabsahan kesepakatan dalam rapat konsultasi pimpinan DPR dengan pimpinan fraksi itu. Sepertinya, hasil kesepakatan rapat konsultasi dicoba untuk dimentahkan kembali. (asy/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads