Pali-pali Versus Alon-alon

Anyonghaseo (12)

Pali-pali Versus Alon-alon

M Aji Surya - detikNews
Selasa, 12 Apr 2016 15:33 WIB
Pali-pali Versus Alon-alon
Foto: Istimewa
Seoul - Anyonghaseo. Kebenaran sebuah konsep yang dibuat manusia selalu bernilai relatif. Yang jelas, setiap konsep memiliki dampak yang berbeda dari satu tempat dengan tempat lainnya. Sangat tergantung seberapa efektif menggunakannya.

Mungkin tidak masuk akal saat senjata modern melawan senjata konvensional. Logika sederhana akan mengatakan bahwa senjata modern akan memenangkan pertarungan. Namun kenyataannya bisa berbeda, Vietnam berhasil mengusir Amerika dari negerinya. Atau bahkan, bangsa Indonesia bisa "menendang" penjajah dengan bambu runcing.

Diantara konsep "perang" menuju kemajuan yang diterapkan oleh bangsa Korea Selatan dinamakan "pali-pali". Dalam bahasa Indonesia bisa disebut "cepat-cepat", atau "ngebut". Situasi yang ada saat itu (1960-an) memang kurang kondusif. Perseteruan dengan Korea Utara makin menegang, sementara rakyat masih terbelakang. Dalam keadaan itu, bila tidak memakai konsep "ngebut", pasti akan terlibas oleh waktu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Suasana kota yang artistik

Perang Dingin yang terus berkecamuk hingga tahun 1970-an juga telah memaksa Korsel putar otak. Masyarakat yang saat itu cenderung tidak rajin harus dipecut agar lari kencang. Infrastruktur yang masih kategori terbelakang membuat roda ekonomi tidak bisa tumbuh dengan cepat. Produksi yang masih lelet mesti dicambuk agar lebih membuncah. Semua musti cepat, ngebut dan "pali-pali".

Karena terus digeber, maka lama kelamaan "pali-pali" menjadi budaya masyarakat negeri ginseng. Kini tidak ada lagi yang serba lelet. Dan memang hasilnya sangat mengagumkan, melihat Korea saat Ini melesat bak meteor yang jatuh ke bumi. Benar-benar wow.

Bayangkan, negeri ginseng tersebut sekarang menduduki ranking 1 dunia di berbagai bidang yakni e-government, DRAM memory chips, LCD display, mobile phone, shipbuilding, internet speed dan rangking ke-5 untuk autos  dan refinery capacity. Selain itu ranking ke-6 untuk produksi baja global dan kemudahan berbisnis. Di bidang pembuatan kapal, market share Korsel di dunia mencapai 41%. Hal ini cukup signifikan jika dibandingkan dengan Jepang sebesar 29% dan China 24%.

Tradisi yang terjaga

Banyak yang melontarkan kritik bahwa budaya "pali-pali" memiliki kelemahan yang cukup mendasar, yakni tidak terlalu cermat. Namanya juga ngebut, pastilah beda dengan yang menggunakan waktu sangat lama. Orang Korea ada yang mengatakan lebih baik cepat tapi salah daripada lambat dan tidak sampai-sampai. Dengan kata lain, mereka berani salah dan tidak takut memperbaiki. Yang penting, harus selesai dalam tempo singkat karena waktu tidak pernah akan menunggu.

Sebaiknya, ada juga di sebagian masyarakat kita yang lebih suka berlama-lama alias alon-alon. Semua pelan saja toh Belanda sudah pulang ke kampungnya. Nanti toh akan sampai juga disana. Tidak hanya itu, bahkan kemudian muncul budaya tambahan yakni mempersulit. Kalau bisa dipersulit mengapa dipermudah. Akibatnya, budaya alon-alon itu makin menggerus waktu yang ada.

Dalam dunia dimana persaingan makin cepat, budaya alon-alon sudah harus mulai ditanggalkan. Sebab, hanya mereka yang bergerak cepat yang akan memenangkan pertarungan. Semakin lambat, akan semakin tertinggal di belakang. Makin lama, makin jauh saja jaraknya.

Taman di pinggir Sungai Han yang bersih dan indah

Indonesia yang dahulu bersama Korea Selatan merasakan susah, dalam banyak hal, kini jaraknya bagaikan bumi dan langit. Masih adakah kans mengalahkan negeri ginseng? Pasti masih. Caranya hanya satu: bergerak lebih cepat dari Korea. Di dunia ini nothing is impossible. (try/try)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads