"Makanya kan Ibu Tuty (Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah) ditanya, yang ditemukan oleh DPRD oleh kita kan isinya berbeda. Nah ini saya sudah curiga. Bukan suuzon (bersangka buruk) ya, (soal) niat untuk 'siluman' lagi," kata Ahok di Jakarta, Selasa (12/4/2016).
Ahok sendiri tak mengerti persis bagaimana DPRD bisa mengusulkan rencana kewajiban 5 persen yang dikenakan kepada perusahaan pengembang reklamasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Engak kuroum-kuorum, bayar absen, ya saya enggak tahu. Bisa saja bayar absen kan, kamu kan butuh saya datang," duga Ahok.
Ahok menduga tak kuorumnya rapat paripurna DPRD DKI bisa disebabkan gara-gara duit rapat tidak cair. Duit tersebut bisa saja dijanjikan atau dimintakan janji kepada pihak-pihak yang berkepentingan kepada anggota DPRD.
"KPK bisa selidiki kasus itu dan sudah dipanggil. KPK kan profesional. Apalagi KPK sudah sadap, dan pasti sudah ada bukti dengan sadap, ada apa, Skype, WhatsApp, semua kan dikumpulin," ujar Ahok.
Permainan uang demi sahnya keputusan 'siluman' itu jelas berbahaya. Kecurigaan Ahok muncul karena dia sudah pernah membahas APBD DKI yang mengandung anggaran 'siluman'. Kini Ahok lebih berhati-hati, segala keputusan rapat harus benar-benar diketahuinya dan harus mendapatkan tanda-tangan disposisinya.
"Ngeri saya. Karena sudah pengalaman APBD kan. APBD kan beda, 'siluman' banyak bertahun-tahun. Begitu saya e-budgeting marah sama saya. Saya sudah minta e-naskah sebetulnya. Jadi semua draft itu ada e-naskah sebetulnya. Cuma sampai sekarang belum dikerjakan," kata Ahok. (dnu/dra)











































