Pada Senin pagi Dedi mendapat kejutan dari para stafnya yang membawa nasi tumpeng. Di saat itu pula Dedi langsung memotong dan membagikan tumpeng tersebut pada para staf yang membawanya.
Setelah mendapat kejutan di rumah dinasnya, Dedi menuju Gedung Kembar (Nakula-Sadewa) dengan berjalan kaki sejauh 700 meter untuk menghadiri acara launching aplikasi online Safety Emergency Medical Ambulance Rescue (Semar).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Tri Ispranoto/detikcom |
Selanjutnya Dedi kembali ke Gedung Negara Bale Nagri untuk menemui para tamu dan menghadiri pembukaan KKN mahasiswa Universitas Islam Bandung (Unisba). Namun saat masuk ke Bale Nagri, Dedi disambut oleh 56 ibu asuhnya yang berkumpul rutin setiap bulannya.
Layaknya ibu dan anak pada umumnya dia tak segan untuk bercanda dengan para ibu asuhnya yang rata-rata berumur 70 tahun. Seisi ruangan Bale Nagri riuh dengan tawa riang dari candaan Dedi dan para ibu asuhnya.
Salah satu ibu asuh Dedi, Rumnasih (116) tak segan mencium pipi Dedi sebagai kado ulang tahun. "Anak emak teh seeur rezekina, sehat terus, terus jadi pamimpin nu dipikacinta ku rakyat. (Anak ibu semoga banyak rezekinya, sehat terus, dan terus menjadi pemimpin yang dicintai rakyat)," ucap nenek asal Kecamatan Tegalwaru saat mendoakan Dedi.
Foto: Tri Ispranoto/detikcom |
Ditemui usai acara Dedi mengaku 56 ibu asuhnya itu sudah mendampinginya sejak tahun 2014 lalu. Mereka diangkat menjadi ibu asuh saat Dedi berkeliling ke desa-desa untuk bertemu warga dan mengecek program pemerintah.
Selama diangkat menjadi ibu asuh mereka mendapat uang bulanan sebesar Rp 300 ribu per bulan termasuk bingkisan sembako. Uang dan sembako tersebut diberikan secara berkala empat bulan sekali langsung pada ibu asuhnya..
"Uang dan bingkisan itu adalah uang pribadi saya yang sedikit banyak saya sisihkan dari gaji," pungkas Dedi. (trw/trw)












































Foto: Tri Ispranoto/detikcom
Foto: Tri Ispranoto/detikcom