Tikus Akar, Spesies Baru yang Ditemukan di Gunung Gandang Dewata Sulawesi

ADVERTISEMENT

Tikus Akar, Spesies Baru yang Ditemukan di Gunung Gandang Dewata Sulawesi

Rachmadin Ismail - detikNews
Minggu, 10 Apr 2016 17:44 WIB
Tikus akar (Foto: Museum Victoria)
Jakarta - Peneliti dari Museum Victoria Australia dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kembali mengumumkan temuan baru dari Gunung Gandang Dewata, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. Dipastikan ada genus dan spesies baru bernama tikus akar atau bernama latin Gracilimus radix.

Dalam rilis yang disampaikan oleh Museum Victoria dan dikutip Minggu (10/4/2016), tikus akar adalah genus ketiga dan spesies keempat yang ditemukan di Pulau Sulawesi selama empat tahun terakhir oleh tim peneliti. Sebelumnya tim sudah menemukan tiga genus yakni tikus ompong atau aucidentomys vermidax, tikus air atau Waiomys mamasae dan tikus hidung babi atau Hyorhinomys stuempkei.

Hewan-hewan itu adalah hewan pengerat pemakan daging yang hanya bisa ditemukan di Sulawesi. Meski begitu, temuan baru ini adalah satu-satunya omnivora di dalam kelompok tersebut, sehingga semakin menunjukkan betapa beragamnya hewan-hewan di sana.

Secara genetik, tikus yang memiliki hubungan kekerabatan terdekat dengan tikus akar adalah tikus air atau Waiomys mamasae, yang sudah ditemukan oleh tim peneliti pada tahun 2014 lalu.

Tim yang menemukan hewan-hewan 'baru' ini terdiri dari Dr. Kevin Rowe (Museum Victoria), Anang Achmadi (Museum Zoologicum Bogoriense) dan Dr. Jacob Esselstyn (Louisiana State University Museum of Natural Science). Mereka sudah berkolaborasi melakukan ekspedisi di Sulawesi sejak tahun 2012.

Tikus Ompong (dok. Museum Victoria)


Tim menemukan tikus tersebut di Gunung Gandang Dewata yang memiliki kekayaan alam cukup beragam di Sulawesi. Dengan puncaknya yang berada di ketinggian 3.000 meter di atas permukaan laut, Gandang Dewata adalah salah satu gunung tertinggi di Sulawesi.

"Di Gunung Gandang Dewata kami menemukan sedikitnya 27 spesies hewan pengerat, jumlahnya dua kali lebih banyak dari gunung-gunung lain di Sulawesi," kata Dr Rowe.

Tikus air (museum victoria)


LIPI akan terus memonitor perkembangan konservasi dan perlindungan hutan di Gandang Dewata. Anang Achmadi bahkan akan kembali ke Mamasa untuk melakukan survei terkait hewan-hewan tersebut. Laporan itu akan ditindaklanjuti untuk diteruskan ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

"Gunung Gandang Dewata memiliki nilai yang sangat tinggi untuk Sulawesi dan Indonesia. Melalui temuan kami dan survei yang sedang berjalan, kami berharap bisa meyakinkan pemerintah untuk melakukan perlindungan," tegas Anang dalam rilis yang sama.

Anang Achmadi (kiri) dan tim saat penelitian


Nama genus Gracilimus adalah bahasa latin untuk ramping dan mus untuk tikus. Ini menunjukkan kondisi tubuh tikus yang relatif ramping di Sulawesi. Sementara nama spesiesnya radix adalah bahasa latin untuk akar yang merujuk pada sebutan tikus akar oleh masyarakat setempat.

Tikus hidung babi (museum victoria)
(mad/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT