Mengenang Kartini dan Kontribusinya Bagi Pendidikan Untuk Wanita

Yulida Medistiara - detikNews
Minggu, 10 Apr 2016 12:59 WIB
Sarah (kanan) dan foto Kartini (Foto: Yulida Medistira)
Jakarta - RA Kartini dikenal sebagai pahlawan yang memperjuangkan emansipasi wanita. Namun dia juga banyak berjuang untuk pendidikan. Apa kontribusinya?

"Beliau banyak menyerukan sekali tentang perjuangan terutama dalam pendidikan agar perempuan itu terdidik," kata peneliti Center For Gender Studies Sarah Larasati Mantovani dalam diskusi Mengapa Harus Kartini di Masjid Abu Bakar Ash Siddiq, Jl Otista Raya, Jakarta Timur, Minggu (10/4/2016).

Menurut Sarah, rata-rata pemikiran Kartini yang banyak digaungkan adalah pemikirannya tentang kesetaraan perempuan dengan laki-laki yang dapat dilihat dari surat-surat Kartini kepada teman-teman Belandanya. Namun, pada akhirnya Kartini kembali berpesan agar pemerintah memberikan kesempatan untuk perempuan agar bisa bersekolah hingga jenjang yang perguruan tinggi.

"Tapi pada akhirnya Kartini kembali pada pemikirannya yang bukan untuk menyamakan antara perempuan dengan laki-laki, tapi bagaimana perempuan mau melahirkan anak yang cerdas dan beradab kalau si perempuan ini tidak terdidik, tidak mendapat pendidikan yang layak. Itu yang membuatnya terinspirasi," ujar sarah.

"Kenapa yang diungkap pemikiran Kartini oleh banyak media adalah Kartini sebagai pejuang emansipasi dan feminis. Kenapa nggak nota tanggal 19 April 1903 tidak diungkap seakan-akan pemikiran Kartini menyetujui ide-ide feminisme yang liberal, menyetujui persamaan hak perempuan dan laki-laki," imbuh Sarah.

Menurut Sarah, ada pesan yang sangat penting dari Kartini kepada pemerintah yang ia tulis dalam sebuah surat dengan bentuk catatan. Sarah berpendapat ada nota yang tidak diumumkan, yaitu nota tanggal 19 april 1903 di dalam buku Surat - Surat Kartini: Renungan Tentang dan untuk Bangsanya terjemahan dari buku Door Duisternis Tot Licht halaman 369 terbitan tahun 198.

Dalam nota itu, pesan Kartini kepada pemerintah Belanda adalah agar memberi pendidikan pada anak perempuan kaum bangsawan. Dari situ, diharapkan agar mereka menjadi ibu-ibu yang cakap, cerdas dan baik.

"Maka mereka akan menyebarluaskan peradaban, di antara bangsanya, kepada anak-anaknya peradaban dan kepandaian mereka akan diteruskan. Anak-anak perempuannya akan menjadi ibu pula. Anak laki-lakinya akan dipanggil untuk turut menjaga keselamatan bangsa dan dengan cara lain yang masih banyak lagi dapatlah mereka menjadi golongan yang beradab menurut pikiran dan hati sehingga berguna baik bagi bangsanya maupun lingkungannya," demikian pesan Kartini seperti yang disampaikan Sarah.

"Kartini bahkan dulu sempat mengirim surat protes ke pemerintah Hindia Belanda supaya perempuan itu mendapatkan pendidikan yang layak beliau mengusahakan agar beliau sendiri ikut belajar ke Belanda, tapi kemudian nggak diizinkan karena disuruh menikah oleh ayahnya," ungkap Sarah.

Raden Adjeng Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 dan meninggal dunia di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun. Kisah Kartini sebagai tokoh wanita salah satunya tercatat dari buku Habis Gelap Terbitlah Terang yang diambil dari kumpulan surat yang ditulis oleh Kartini. Kumpulan surat tersebut dibukukan oleh J.H. Abendanon dengan judul Door Duisternis Tot Licht . Setelah Kartini wafat, Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada teman-temannya di Eropa. Abendanon saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. (mad/mad)