Politikus PPP Arsul Sani mengatakan ketidakhadiran Djan tak akan mengganggu proses islah.
"Kalau kita lihat sejarah yang berselisih itu kan kubu Pak SDA dengan Pak Romi, kan begitu. Nah, sekarang perselisihan itu selesai," kata Arsul di sela Muktamar VIII di Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur, Jumat (8/4/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita tidak bisa kemudian partai yang besar ini dengan 8 juta pemilih di Pemilu 2014. Kemudian tersandera oleh beberapa orang. Ya enggak lah," sebutnya.
Alasan ini yang coba diyakinkan kepada pemerintah termasuk Presiden Joko Widodo. Forum islah harus menjadi pemersatu dua kepengurusan yang bertikai. Apalagi sesepuh PPP yakni Maimoen Zubair ikut hadir.
"Nah, ini lah yang kita yakinkan pada semua pihak termasuk pemerintah. Makanya Pak Jokowi, Pak Yasonna, Pak Tjahjo datang," tuturnya.
Arsul punya pesan khusus untuk Djan Faridz. Ia meminta eks Menteri Perumahan Rakyat itu hadir ke Muktamar VIII dan maju bersaing sebagai calon ketua umum.
"Pak Djan Faridz datanglah ke sini. Kalau Pak Djan Faridz masih tetap ingin jadi ketum, berkontestasilah. Sampaikan visi-misi di depan Muktamirin," tuturnya.
Bila Djan bersedia hadir, maka Arsul siap menjamu dengan karpet merah.
"Gelar karpet merah bagi beliau untuk bisa meyakinkan bahwa beliau yang paling pantas menjadi ketua umum," ujarnya.
(hat/dnu)











































