"Mengingatkan kita semua lahirnya Barisan Muda kita ini diiringi PAN. Kita mesti ingat sejarah kelahirannya agar tidak lupa kenapa kita ada di ruangan ini di Barisan Muda PAN. Kenapa Zumi Zola berjuang habis-habisan buat jadi gubernur?Kita semua bisa jadi menteri mudah-mudahan," kata Zulkifli disambut tepuk tangan hadirin.
Rapimnas BM PAN ini digelar di Hotel Kartika Chandra, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (8/4/2016). Zulkifli didampingi Ketua Umum BM PAN Yandri Susanto, Ketua Fraksi PAN DPR Mulfachri Harahap dan Ketua MPB BM PAN Riski Sadig. Acara ini juga dihadiri sejumlah elite PAN seperti Waketum Hanafi Rais, Totok Daryanto, Asman Abnur, dan anggota DPR RI Teguh Juwarno.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Zulkifli lantas mengungkap sejarah berdirinya PAN di era reformasi. "Saya ingin mengingatkan lahirnya PAN oleh tokoh kita pendiri PAN sendiri saudara saya Amien Rais dkk dari rahim reformasi. Memiliki cita-cita yang teramat mulia untuk melakukan koreksi terhadap republik yang kita cintai ini. Jadi zaman otoriter menjadi reformasi, jadi zaman seperti sekarang ini atas perjuangan Amien Rais dkk pada zaman itu, " kata Zulkifli.
Ketua MPR RI ini kemudian mengingatkan agar kader PAN menjaga soliditas. Tidak seperti partai lain yang terpecah-belah.
"Jangan kita ikuti seperti yang lain. Yang asyik sama dirinya sendiri. Bertengkar, berkelahi. Partai-partai bertengkar, berkelahi bahkan terbelah dua. Bertarung habis-habisan karena aku-nya. Bukan berjuang untuk siapa-nya tapi aku-nya. Semua orang sekarang sibuk berkelahi bertarung agar aku-nya. Padahal sejatinya adalah bagaiman biar buat rakyat Indonesia. Partai didirikan demi cita-cita yang punya visi misi dan platform. Kalau sampai tidak tahu berarti kita mulai kehilangam cita-cita, kehilangan jati diri dan kepekaan," ingatnya.
Zulkifli juga bicara soal isu terkini, seputar kondisi perekonomian nasional. Dia juga mewanti-wanti soal bahaya narkoba bagi generasi muda.
"Bayangkan narkoba sudah masuk ke jantung negara, prajurit, jenderal, juga ada doktor, ada profesor, ada pendeta, ada ustadz, ada DPR, ada bupati, ada baru ditangkep lagi. Bayangkan! Nah di mana BM PAN? Kalau sudah tidak bersuara bagaimana memperjuangkan cita-cita kita? Bagaimana rakyat mau peduli pada kita?" tegasnya.
(van/nrl)











































