"Oh enggak, ini karena ada masalah," ungkap Ahok saat menghadiri acara The 6th Congress Asia Pacific Initiative Reproduction (ASPIRE) 2016 di Balai Sidang Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Jumat (8/4/2016) pagi.
Ahok menyebut uji coba ini dilakukan karena ia menemukan kasus eksploitasi anak yakni para joki 3 in 1 yang memberi obat penenang kepada anak-anak. Untuk itu Ahok ingin menghilangkan joki agar masalah yang sama tidak terulang kembali.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya itu, peraturan 3 in 1 disebutnya pun juga tidak benar-benar menjadi solusi mengurangi kemacetan di Jakarta. Makanya Ahok pun mencoba mencari solusi terbaik, dan ingin melihat bagaimana dampak jika 3 in 1 dihapuskan.
"Enggak ada 3 in 1 sama macetnya, karena 3 in 1 dimasukin anak-anak tadi. Belum lagi orang ngantre," tutur eks anggota DPR ini.
Ahok menjamin bahwa uji coba ini tidak ada kaitannya dengan perihal pencalonan dirinya menjadi cagub DKI. Ia memang berencana untuk maju di Pilgub DKI melalui jalur independen.
"Saya mana pernah minta simpatik orang, sikat terus kok," tegas Ahok.
Mengenai hasil selama beberapa hari penghapusan 3 in 1, Ahok belum mau berkata banyak. "Kan baru 3 hari, makanya kita butuh 2 minggu untuk evaluasi," ujarnya.
Uji coba penghapusan 3 in 1 ini berlaku dari 5-8 April dan 11-13 April 2016. Jika evaluasi penghapusan 3 in 1 ternyata justru menambah kemacetan, Ahok berencana untuk menerapkan sistem pemberlakuan nomor kendaraan ganjil-genap.
"Tergantung evaluasi dua minggu ini. Kalau dua minggu ini kemacetan hampir mirip, ya enggak diterapkan. Kalau macetnya tambah parah ya harus diterapkan," terang Ahok, Selasa (5/4).
(ear/dra)











































