"Kemarin kita berbicara saya mengatakan, siapapun juga yang membela teroris ialah pro teroris. Salah satu dari rekan Anda wartawan mengatakan 'Pak selama ini yang aktif membela Siyono, yaitu aktivis Muhammadiyah dengan demikian Muhmmadiyah pro teroris, ya kan? Rekamannya juga ada," terang Anton di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta, Kamis (7/4/2016).
Anton menegaskan, bukan dia yang menyebut Muhammadiyah pro teroris. Dia tidak pernah menyampaikan itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anton kemudian membeberkan ada upaya-upaya menunggangi Muhammadiyah untuk mengadu domba dengan Polri.
"Khususnya Densus dengan Muhammadiyah. Ini kita harus sama-sama merapatkan barisan," terang Anton sambil menunjukan sebuah selebaran.
"Ini ada gambar ajakan perhatian seluruh warga Indonesia yang kediamannya digerebek dan ada tetangga dan kerabat ditangkap oleh Densus, segera hubungi majelis hukum hak asasi manusia pusat Muhamadiyah," jelas Anton sambil memperlihatkan sebuah selebaran.
Menurut Anton, pihaknya sudah mengontak Muhammadiyah dan tidak pernah ada selebaran seperti itu.
"Ini artinya jelas provokasi dari golongan-golongan radikal mengatasnamakan agama itu sudah masuk. Gambar ini tidak dirilis muhammadiyah. Ini hoax," tegas dia.
Anton juga menyampaikan, selama ini korban terorisme sudah banyak. Seperti korban bom ada 406 jiwa, empat kali lebih banyak dari seluruh terduga teroris yang tewas.
"Kemudian yang luka aksi teror, 1.302 orang luka 309 bangunan. Belum termasuk korban dari kepolisian ataupun TNI. Ini tidak Anda tanyakan, yang ditanyakan dari pelaku teroris. Nanti kita semua komitmen dan berharap bantuan media inilah yang bisa membantu kami komitmen melawan gerakan radikal yang mengatasnamakan agama," tutup dia. (dra/dra)










































