Analisis Dua Gempa Bumi di Laut Maluku yang Tak Berpotensi Tsunami

Analisis Dua Gempa Bumi di Laut Maluku yang Tak Berpotensi Tsunami

Rachmadin Ismail - detikNews
Rabu, 06 Apr 2016 09:00 WIB
Analisis Dua Gempa Bumi di Laut Maluku yang Tak Berpotensi Tsunami
Foto: Mindra Purnomo
Jakarta - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat dua gempa bumi signifikan di zona lempeng Laut Maluku. Apa pemicunya? Dan kenapa tak berpotensi tsunami?

Kepala Bidang Mitigasi Gempa bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa peristiwa pada 5 April kemarin itu terjadi di Melonguane dengan kekuatan 5,6 SR yang terjadi pada pukul 15.29.21 WIB. Gempa bumi ini dirasakan di Melonguane dalam skala intensitas V MMI dan Sangihe III MMI.

Gempa kedua terjadi di Tidore dengan kekuatan 5,1 SR terjadi pada pukul 15.52.35 WIB. Gempabumi ini dirasakan di Ternate II MMI dan di Labuha III MMI.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Patut disyukuri bahwa kedua gempa bumi ini tidak menimbulkan kerusakan bangunan, namun demikian akibat gempa bumi ini dilaporkan sempat membuat warga berhamburan keluar rumah," kata Daryono kepada detikcom, Rabu (6/4/2016).

Menurut Daryono, gempa bumi Melonguane dengan episenter di laut dengan mekanisme sumber berupa sesar naik ini tidak berpotensi tsunami. Hal ini disebabkan karena kedalaman hiposenternya yang mencapai 35 kilometer dengan magnitudo gempa yang relatif "kecil", sehingga tidak mampu merobek dasar laut untuk memicu tsunami.

Gempa bumi berkedalaman dangkal ini terjadi akibat adanya deformasi batuan kerak Bumi karena di zona yang memang selalu mendapat gaya tekanan/kompresi Lempeng Eurasia dari barat dan Lempeng Laut Filipina dari timur. Gaya kompresi yang tersebar di Lempang Laut Maluku ini menjadikan kawasan Laut Maluku memiliki kerawanan tinggi terhadap bencana gempa bumi dan tsunami.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa kawasan Maluku Utara-Sangihe sudah beberapa kali terjadi gempa bumi merusak. Gempa bumi Sangir 1 April 1936 adalah catatan gempabumi paling dahsyat yang pernah terjadi di zona ini, karena guncangannya yang mencapai VIII – IX MMI hingga menyebabkan sebanyak 127 bangunan rumah mengalami kerusakan.

Selain itu, gempa bumi Pulau Siau pada 27 Februari 1974 juga memicu longsoran dan kerusakan bangunan rumah di berbagai tempat. Terakhir adalah gempa bumi Sangihe-Talaud yang terjadi pada 22 Oktober 1983. Gempa bumi ini dilaporkan telah merusak beberapa bangunan rumah.

Kawasan zona sumber gempa bumi Maluku Utara-Sangihe juga memiliki beberapa catatan sejarah tsunami merusak akibat gempa bumi tektonik. Beberapa catatan sejarah tsunami merusak di Maluku Utara dan sekitarnya adalah:

(1) Tsunami Banggai-Sangihe 1858 dilaporkan menyebabkan seluruh kawasan pantai timur Sulawesi, Banggai, dan Sangihe dilanda tsunami,

(2) Tsunami Banggai dan Ternate 1859 telah mengakibatkan banyak bangunan rumah di daerah pesisir pantai disapu tsunami,

(3) Tsunami Kema-Minahasa 1859 dilaporkan memicu gelombang tsunami hingga mencapai atap bangunan rumah,

(4) Tsunami Gorontalo 1871 juga dilaporkan menerjang di sepanjang kawasan pesisir Pantai Gorontalo,

(5) Tsunami Tahuna 1889 menerjang pesisir pantai hingga terjadi kenaikan air laut sekitar 1,5 meter,

(6) Tsunami Talaud 1907 menerjang kawasan pantai hingga ketinggian mencapai 4 meter, dan

(7) Tsunami Salebabu 1936 dilaporkan menerjang pantai dengan ketinggian hingga mencapai 3 meter.

"Gambaran catatan sejarah tsunami tersebut di atas kiranya sudah cukup untuk menyimpulkan bahwa Maluku Utara dan sekitarnya memang merupakan zona rawan gempa bumi dan tsunami," tutup Daryono. (mad/aan)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads