"Hari pertama uji coba tidak ada joki yang tertangkap. Cuma ada 3 hingga 4 orang yang terlihat, namun langsung kabur begitu melihat petugas," ujar Kasudin Sosial Jakarta Selatan, Mursyidin saat dihubungi detikcom, Rabu (6/4/2016).
Mursyidin mengatakan, para joki tersebut mungkin tidak mengetahui ada uji coba penghapusan 3 in 1 yang dilakukan untuk menghapus praktik eksploitasi anak-anak di Jakarta. Meski jumlah joki di kawasan Jaksel itu tak terlalu banyak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penertiban yang dilakukan oleh Dinsos Jaksel tak hanya berlaku saat uji coba saja, namun setiap hari termasuk pada hari kedua ini. Karena itu petugas Dinsos Jaksel tak akan menambah personel untuk pengamanan.
"Kita kerja seperti biasa, dalam uji coba maupun tidak uji coba intensitas di lapangan sama saja," kata Mursyidin.
Mursyidin mengatakan akan memberikan sanksi kepada para siswa yang kedapatan berprofesi sebagai joki. Merujuk pada Pergub, apabila ketahuan maka Kartu Jakarta Pintar (KJP) dan Kartu Jakarta Sehat (KJS) yang mereka miliki akan dicabut izin penggunaannya.
"Joki ini kebanyakan bukan hanya PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial), tapi juga anak sekolah. Apabila kedapatan ada siswa yang menjadi joki maka Wali Kota Jaksel akan mencabut KJS dan KJP yang mereka miliki. Hal ini akan kita berlakukan, itu pergubnya sudah ada," ujarnya.
(rni/miq)











































