Muhammadiyah Ungkap Kejadian Seputar Tewasnya Siyono

Muhammadiyah Ungkap Kejadian Seputar Tewasnya Siyono

Herianto Batubara - detikNews
Selasa, 05 Apr 2016 17:36 WIB
Muhammadiyah Ungkap Kejadian Seputar Tewasnya Siyono
Foto: Muchus/detikcom
Jakarta - Ketum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar memberikan penjelasan mengenai tewasnya Siyono. Muhammadiyah memang tengah mengadvokasi  Suratmi, istri almarhum Siyono yang mencari keadilan..

Siyono tewas usai ditangkap dan dibawa Densus 88. Polri memberikan penjelasan, Siyono tewas setelah mencoba melakukan perlawanan.

Dahnil menyampaikan, Selasa (5/4/2016), ada keterangan berbeda saat ini mengenai hasil autopsi Siyono. Sebelumnya disebutkan pihak kepolisian, kalau hasil autopsi, tewasnya Siyono karena benturan di kepala. Namun belakangan muncul pernyataan dari polisi, kalau Siyono tak diautopsi karena keluarga menolak.

"Mohon maaf Pak Polisi, berdasarkan keterangan keluarga untuk membuka kafan Jenazah Siyono saja, keluarga dapat halangan dari pihak kepolisian. Dan jenazah diminta Untuk segera dikebumikan tengah malam itu juga setelah tiba di rumah, dibarengi dengan usaha orang yang meminta tandatangan kepada keluarga, agar keluarga Siyono bersedia menandatangani surat yang menyatakan mengikhlaskan kematian Siyono. Orang Tua Siyono, Pak Marso Diyono menandatangani surat tersebut, tetapi Suratmi Istri Almarhum Siyono menolak menandatanganinya," urai Dahnil.

Dahnil mengungkapkan, yang menolak autopsi malahan kepala desa, yang tak diketahui alasannya. Bukan keluarga.

"Tetapi, warga yang kami temui dan sampai dengan proses otopsi yang sesungguhnya dilakukan oleh Tim Forensik Muhammadiyan justru warga mendukung proses autopsi dan membantu persiapannya, meskipun sampai detik terakhir autopsi dilakukan, masih ada usaha dari Polres untuk mencegah autopsi dengan alasan harus ada izin dari Densus 88," urai dia.

Dahnil juga mengungkapkan, menurut 9 Dokter Tim Forensik Muhammadiyah dan seorang Dokter Forensik yang diutus Polda, menunjukan bahwa Jenazah Siyono belum pernah dilakukan autopsi sama sekali. Jadi, fakta ilmiah autopsi menunjukkan tidak Ada tanda-tanda jenazah pernah dilakukan autopsi," jelas dia.

Tim Forensik Muhammadiyah ditambah 1 orang dokter dari Polri, menemukan patah tulang di beberapa bagian tubuh seperti dada dan bagian lain yang diakibatkan benda tumpul.

"Tapi karena tingginya etika dan profesionalitas ketika ditanya wartawan apakah itu penyebab kematian Siyono, Dokter Gatot menyatakan belum kami simpulkan menunggu uji mikroskopis atau uji Lab, dan akan disampaikan nanti setelah uji lab," tutur dia.

Dahnil juga menegaskan, Muhammadiyah melakukan autopsi atas permintaan Komnas HAM, bukan atas opini tetapi berusaha menemukan fakta melalui usaha ilmiah.

"Mari kita Bantu Polisi menjadi lebih Profesional dan menghargai hukum dan melindungi hak hidup warga negaranya siapa pun mereka. Ini saatnya kita bantu polisi berubah menjadi lebih baik melalui membantu Bu Suratmi istri Almarhum Siyono mencari keadilan," tutup dia. (dra/dra)


Berita Terkait