Jejak Achmad fenomenal lantaran memelopori desain masjid tanpa kubah, salah satunya Masjid Salman. Pria kelahiran Garut 10 Oktober 1925 tersebut merupakan tokoh arsitek Indonesia kelas dunia. Karya-karya desain masjid yang dikerjakannya bertebaran di dalam dan luar negeri.
Sekian banyak pelayat berjumlah ratusan orang, nampak hadir tokoh nasional, Hatta Rajasa. Bagi Hatta, mendiang Achmad ibarat sudah dianggap sebagai orang tua. Seabreg kenangan soal Achmad dirasakan Hatta muda sewaktu aktif di Masjid Salman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hatta mewakili Keluarga Alumni Salman dan Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) merasa kehilangan Achmad. Sejumlah kisah tak terlupakan diungkapkan Hatta soal kontribusi Achmad selama ini.
"Ketika saya menjalankan amanah menjadi Menristek, saya meminta beliau mendesainkan masjid di Kemenristek. Lalu masjid di Istana Negara, saat perluasan dan perbaikan kiblatnya, juga beliau. Bagi saya, beliau sangat luar biasa memberikan keteladanan," tutur Hatta.
Menko Perekonomian era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini mengaku belum sempat menjenguk Achmad yang selama dua pekan lalu terbaring lemah di RS Borromeus. "Tapi kalau ke Bandung, saya selalu menyempatkan bertemu almarhum," ujar Hatta.
Foto: Baban Gandapurnama/detikcom |
Lebih lanjut Hatta menuturkan, Indonesia patut bangga dengan karya-karya arsitektur hasil sentuhan Achmad yang mayoritas mendesain pembangunan masjid.
"Beliau memadukan antara struktur hingga membangun masjid lebih murah dan indah dengan arsitektur bernuansa Islami. Desainnya sangat khas dan berkarater kuat. Ya, seperti keindahan Masjid Salman ini," kata Hatta sambil menambahkan bahwa salah satu anak Achmad yaitu Fauzan Noe'man meneruskan keahlian almarhum.
Senada diungkapkan Sekretaris MUI Jabar Rafani Achyar soal sosok Achmad. Menurut Rafani, Achmad ialah seorang tokoh dan dai yang mempunyai keahlian khusus sebagai arsitek.
"Dia kan mendapat sebutan 'arsitek seribu masjid'. Nah, lewat keahlian arsitek masjid itulah dia melaksanakan dakwah. Lalu mampu menerjemahkan Islam dalam konteks masjid dengan kekhasan berupa disiplin ilmu dimilikinya," ujar Rafani di lokasi yang sama.
Selama ini, sambung Rafani, orang umumnya merancang masjid terfokus kepada bangunan kubah. Namun ternyata, dia melanjutkan, kubah sebetulnya bukan elemen yang mutlak harus ada dalam sebuah masjid.
"Jadi bentuk kubah itu lebih dari pengaruh arsitektur di Timur Tengah saat masa-masa kejayaan Islam. Beliau mengembangkan arsitektur masjid itu sesuai dengan ciri khas Indonesia, yaitu tanpa kubah. Beliau punya filososfi tersendiri, kubah itu kan perlu banyak tiang penopang, sedangkan kalau banyak tiang di bagian tengah itu mengganggu saf jamaah. Seperti Masjid Salman ini, tidak ada tiang di bagian tengah masjid," tutur Rafani.
Selama ini, menurut Rafani, Achmad merupakan salah satu tokoh agama yang memberikan keteladanan. "Itulah kelebihan beliau. Dia memberikan contoh nyata, bahkan sampai usia tua saja beliau tak berhenti berkontribusi. Andalannya bukan soal ceramah dan tabligh, tapi karya nyata berupa mendesain masjid," ucap Rafani. (bbn/try)












































Foto: Baban Gandapurnama/detikcom