Orang-orang inti pengikut Santoso teertangkap atau tewas. Terakhir seorang pengikut Santoso dengan inisial D alias P tewas dalam operasi Tinombala.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah Ajun Komisaris Besar Hari Suprapto mengatakan D alias P bukan orang sembarangan di kelompok Santoso.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam catatan kepolisian, dari tangan kelompok Santoso saat ini sudah diamankan sebanyak 25 peta. Kelompok Santoso mendapatkan peta-peta tersebut melalui berbagai media. Ada yang dari internet, ada juga yang data badan pertanahan.
Kelompok Santoso menggunakan peta-peta tersebut untuk mengetahui adanya sungai sebagai sumber air minum, rute jalan untuk menyiapkan strategi dan untuk mengetahui keberadaan pasukan Satgas Tinombala. Setelah 25 peta berhasil diambil oleh Satgas operasi Tinombala, Hari menduga saat ini tinggal sekitar 4 peta yang ada di tangan kelompok Santoso.
Selain ahli strategi dan membaca peta, D alias P juga ahli IT. Dari D inilah sejumlah file tayangan video kelompok Santoso diungggah ke Youtube.
D ini juga memiliki hubungan kedekatan dengan Daeng Koro alias Sabar Subagio, eks anggota korps elite TNI yang disersi dan bergabung dengan kelompok Santoso. Daeng Koro tewas dalam baku tembak dengan Satgas TNI Polri di Poso, 6 April 2015 lalu.
Di Jakarta Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Tito Karnavian memastikan bahwa kelompok Santoso saat ini sudah melemah dan kian terkepung. Selama waktu dua bulan ini ada tercatat ada 10 anggota kelompok Santoso meninggal dunia dan dua orang tertangkap menyerahkan diri dalam operasi Tinombala.
"Perkembangan terakhir kelompok Santoso sudah melemah. Dalam waktu dua bulan ini lebih dari 10 orang sudah tertangkap baik hidup maupun yang meninggal dunia dalam kontak tembak," kata Tito kepada wartawan di kantor Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Jakarta, Senin (4/4/2016).
Kelompok Santoso, kata Tito, bersembunyi di hutan Poso yang terkenal memiliki medan cukup berat dan lebat. Perburuan ini ibarat mencari tumpukan jarum dalam jerami. "Ini lagi dilakukan operasi tangkap, tapi kan mereka di hutan, bergunung-gunung jadi ibarat mencari tumpukan jarum dalam tumpukan jerami. Ini problemnya medan saja," jelas Tito. (erd/dra)











































