Frekuensi Penerbangan di Soetta Dikembalikan Lagi 72/Jam, ini Penjelasan AirNav

Frekuensi Penerbangan di Soetta Dikembalikan Lagi 72/Jam, ini Penjelasan AirNav

Nograhany Widhi K - detikNews
Minggu, 03 Apr 2016 16:36 WIB
Frekuensi Penerbangan di Soetta Dikembalikan Lagi 72/Jam, ini Penjelasan AirNav
Foto: dokumentasi detikTravel
Jakarta - Pemerataan frekuensi pergerakan pesawat 60 per jam memang sempat ada di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Namun dikembalikan lagi menjadi 72 pergerakan pesawat per jam. Ini kata AirNav Indonesia.

AirNav Indonesia atau Perusahaan Umum (Perum) Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) adalah badan usaha yang menyelenggarakan pelayanan navigasi penerbangan di Indonesia.

"Jadi begini, sebenarnya tak ada usaha untuk mengurangi, tapi merapikan dan meratakan (pergerakan pesawat) menjadi 60 per jam, tadinya," jelas Direktur Operasi AirNav Indonesia Wisnu Darjono kala dikonfirmasi detikcom, Minggu (3/4/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Faktor di lapangan, imbuh Wisnu, memang ada jam-jam yang pergerakan pesawatnya tinggi di Bandara Cengkareng, ada yang kosong.

"Kemudian timbullah instruksi 'Ratakan jadi 60'. Setelah dimainkan, dampaknya dari slot ada yang harus digeser, dari slot yang diizinkan harus tergeser. Pergeseran ini airline keberatan karena beberapa sudah jual tiket," jelas dia.

Atas keberatan maskapai ini, Menhub Ignasius Jonan, imbuh Wisnu, bertanya kembali ke AirNav Indonesia. "'Masih bisa ditangani tidak 72 (pergerakan pesawat per jam)?' Kemudian kami meyakinkan AirNav Indonesia diperintahkan untuk kembali ke 72 seperti semula, dan itu bisa," imbuhnya.

Selama ini, pergerakan 72 pesawat per jam sudah berjalan dan bisa dilakukan. 72 pergerakan pesawat per jam itu maksimum di Bandara Soekarno-Hatta, jadi kembali seperti sebelum ada pemerataan pergerakan pesawat.

"Tetapi kami akan selalu usahakan pemerataan. Nantinya kami usahakan untuk tidak ada jam-jam yang situasinya terlalu tinggi, jadi cuma 54 nggak sampai 72. Kami usahakan semaksimal mungkin tanpa membuat airline merasa sudah telanjur beli tiket tapi nggak bisa terbang," tuturnya.

Ide Awal Kurangi Macet di Darat dan Udara

Lantas dari mana ide awal pemerataan pergerakan pesawat di Bandara Cengkareng?

"Menhub pengin bagaimana meningkatkan keselamatan penerbangan karena mengevaluasi kondisi Soekarno-Hatta. Kondisi Soekarno-Hatta traffic-nya timpang antara satu jam dengan jam yang lain. Paling tinggi 72, ada yang lebih sampai 75, sementara jam berikutnya cuma 50 sekian. Ada golden time, di mana penumpang airline berangkat pada jam yang bagus, sementara jam lain sudah kurang begitu," jawab Wisnu.

Ketimpangan pergerakan pesawat ini membuat petugas menara kontrol (Air Traffic Controller/petugas ATC) yang bekerja pada golden time lebih lelah dibanding ATC yang bekerja pada jam berbeda. Golden time itu, imbuh Wisnu, terjadi pada pukul 05.00-07.00 WIB, dan untuk pesawat yang datang pada pukul 09.00-10.00 WIB. Pukul 12.00 WIB-pukul 16.00 WIB traffic pergerakan pesawat turun kemudian naik lagi setelah pukul 16.00 WIB.

Pergerakan pesawat yang banyak di golden time itu, menimbulkan tumpukan traffic di satu tempat, di runway (landas pacu), di taxiway, juga antrean penumpang di darat. Antrean juga terjadi di langit, pesawat antre mendarat.

"Numpuk di satu jam tertentu, antrean jadi panjang, jadi macet di langit, dan di landasan. Nah itu harus dipegang, angka itu harus dipegang, agar penumpang nyaman terbang, nggak ada keluhan seperti itu," jelasnya.

Tetapi di sisi lain, kebutuhan di dunia penerbangan terlanjur menjual tiket sehingga tidak bisa dikurangi lagi untuk pergerakan pesawatnya. Misal, ada penumpang yang sudah membeli tiket 4 bulan lalu, yang berangkatnya semula pukul 08.00 WIB, diundur jadi pukul 11.00 WIB. Penumpang tentu akan marah.

"Sekarang kami maksimalkan 72 (pergerakan pesawat per jam), saya akan berusaha untuk tak terjadi lebih dari itu. Dengan demikian antrean tak terjadi terlalu banyak, wajar-wajar saja, airline disenangkan safety terjamin," ulasnya.

Pemerataan 60 Pergerakan Pesawat Per Jam Sempat Dilaksanakan

Pemerataan pergerakan pesawat 60 per jam di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, sempat dilaksanakan hanya beberapa hari. Wisnu menyebutkan sempat ada Instruksi Menhub atas kebijakan ini.

"Sebenarnya masih transisi. Tanggal 26 Maret itu 60 slot movement. Nah teman-teman airline keberatan pada 27-28 Maret, keberatan karena ada banyak masalah di sana. 29-30 Maret 2016 kami evaluasi, kami kembalikan ke 72 (pergerakan pesawat)," papar Wisnu.

Jadi pelaksanaan 60 pergerakan pesawat sempat dilakukan pada 26-30 Maret 2016. Dan per 1 April 2016, kebijakan dikembalikan ke 72 pergerakan pesawat per jam. Tak ada chaos saat pelaksanaan 60 pergerakan pesawat itu dijalankan.

"Kalau masalah itu kemarin Instruksi Menhub, saya pelaksananya bagaimana regulasi dari kemenhub. Saya taktis aja, taktis operasional menjalanklan itu. Dari sisi administrasi ada revisi lagi, tetapi dari sisi taktis operasional akan melakukan itu, penumpang nggak mungkin dikorbankan, kami sudah bisa. Ke depan kami ebaluasi lagi, peratannya berapa. Kalau bisa 72 tanpa antrean yang panjang dan saya yakin itu bisa, kami main di 72," tuturnya.

Selama ini operasional pergerakan pesawat di Bandara Cengkareng adalah 24 jam, 20 jam di antaranya untuk operasional pergerakan pesawat dan sisanya untuk perawatan. Setiap hari, ada 1.200 pergerakan pesawat yang harus ditangani. Bila dirata-rata seharusnya tiap jam, pergerakan pesawat adalah 60 pergerakan, dengan asumsi tak ada golden time. (nwk/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads