"Saya kebetulan 7 bulan jadi sekjen dan komunikasi dengan beliau cukup intensif, nggak ada terasa kaitannya dengan anak Pak SBY," ungkap Hinca di sela-sela Pelatihan Kader PD di Novotel Hotel, Bogor, Sabtu (2/4/2016).
Hinca menyebut Ibas mampu menempatkan diri dan membuat jarak ketika sedang melakukan aktivitas kepartaian. SBY sendiri juga bisa memisahkan hubungan kekeluargaan ketika sedang bekerja untuk kepentingan Demokrat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
SBY sebagai Ketum PD menurutnya juga tidak membeda-bedakan semua kadernya. Meski Ibas merupakan putera kedua SBY, Hinca mengatakan SBY tetap memperlakukan Ibas sebagaimana kader Demokrat pada umumnya.
"Sama seperti kepada saya sebagai Sekjen. Dan biasa saja. Saya lihat dan rasakan betul. Saya melihat Mas Ibas sudah semakin matang," tuturnya.
Sebagai sosok yang masih muda, Ibas dianggap kader berprestasi. Sebab baru pertama memimpin sebagai Ketua KPP, ia bisa membawa hasil melebih target Demokrat pada Pilkada 2015 lalu.
Hinca mengaku sering sekali melakukan diskusi publik dengan Ibas. Bahkan hingga larut malam setelah melakukan pekerjaan yang sudah cukup melelahkan, seperti Tour de Java lalu.
"Itu dilakukan sebagai kerja politik. Makanya teman-teman melihat, 'wah Mas Ibas total ini untuk pemenangan Pemilukada'. Karena itu baru hari berapa dan masih intens kerja-kerja politik," jelas Hinca.
"Ketika ada rekomendasi, beliau responnya cepat sekali, tanggap. Terus berdiskusi. Kami intens sekali," lanjut Waketum PSSI tersebut.
Sebelumnya internal PD menyodorkan sejumlah nama kadernya yang dinilai berpotensi untuk menjadi lawan Gubernur DKI petahana Basuki T Purnama. Selain Ibas, juga disebut nama Dede Yusuf dan Gubernur Jatim Soekarwo.
(ear/rvk)











































