"Fenomena Ahok ini seperti Tonny Blair. Dia menyesuaikan pasar dengan penawaran baru," kata Romo Benny dalam diskusi bertajuk 'Pilkada DKI: Mencari Alternatif Selain Ahok' di kantor PARA Syndicat, Jl Wijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (1/4/2016).
Romo Benny menjelaskan, masyarakat Jakarta adalah kaum urban yang mayoritas berideologi pragmatis. Mereka akan memilih pemimpin yang menguntungkan kepentingannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ahok gunakan fenomena ini, dia pilih independen dan didukung warga. Seperti Tonny Blair yang akhirnya memenangkan Partai Buruh," tuturnya.
Sayangnya, menurut Romo Benny, parpol salah langkah dalam menghadapi Ahok. Mestinya Ahok dilawan dengan memunculkan tokoh yang sama bersih dan sama kuat. Namun yang terjadi, parpol justru memunculkan kembali isu SARA dan etnis.
"Ahok itu dibranding sebagai orang yang anti korupsi, tegas. Lawannya juga mestinya sama. Kalau brandingnya dengan agama, SARA, ya nggak laku, wong ini urban," terang Benny.
Benny menilai, hal ini terjadi lantaran parpol belum mampu memunculkan sosok yang mampu menandingi Ahok. Padahal menurutnya, ada banyak tokoh lain yang dapat disandingkan dengan Ahok seperti Menteri Susi Pudjiastuti, dan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.
"Susi-Djarot itu cukup kuat lah. Atau Wali Kota Surabaya, itu sama bonex-nya. Jadi lawannya itu seharusnya apple to apple," tutur Romo Benny. (khf/dra)











































