Anak-anak Indonesia Hadapi Persoalan Kelebihan Berat Badan karena Junk Food

Anak-anak Indonesia Hadapi Persoalan Kelebihan Berat Badan karena Junk Food

Herianto Batubara - detikNews
Kamis, 31 Mar 2016 10:47 WIB
Anak-anak Indonesia Hadapi Persoalan Kelebihan Berat Badan karena Junk Food
Foto: Thinkstock/ ilustrasi
Jakarta - UNICEF, WHO dan ASEAN melakukan kerjasama penelitian pada anak-anak di Asia Tenggara. Dan hasilnya, untuk di Indonesia, anak-anak mengalami dua persoalan besar.

Yang pertama, ada 12 persen anak menghadapi kelebihan berat badan dan 12 persen menghadapi kurang gizi.

"'Beban ganda' malnutrisi ini terjadi di negara-negara berpenghasilan menengah seperti Indonesia, Malaysia, Filipina dan Thailand," demikian dari siaran pers UNICEF, Kamis (31/3/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam keterangannya UNICEF menjelaskan, penyebab kelebihan berat badan dan kekurangan gizi saling terkait. Seorang anak yang mengalami hambatan pertumbuhan pada usia dini berisiko lebih besar untuk mengalami kelebihan berat badan kemudian hari.

"Risiko kelebihan berat badan naik dengan peningkatan akses ke 'junk food' dan minuman (orang-orang dengan kadar lemak trans atau gula tinggi dan nilai gizi yang rendah), aktivitas fisik dan gaya hidup tidak aktif atau kurang bergerak. Ini merupakan tren yang meningkat di banyak negara di kawasan ini, dan memberikan kontribusi signifikan terhadap meningkatnya prevalensi penyakit kronis seperti diabetes dan kondisi jantung," demikian penjelasan Regional Nutrition Advisor untuk UNICEF Asia Timur dan Pasifik Christiane Rudert.

Hal tersebut terjadi karena banyak negara di Asia Tenggara mengalami kenaikan ekonomi yang signifikan.

Sedang persoalan kekurangan gizi terjadi karena masalah kemiskinan, komponen makanannya kurang bergizi, pola pemberian makan bayi yang buruk, air bersih, dan sanitasi tidak memadai.

"Jika anak-anak mengalami hambatan pertumbuhan, hal ini juga akan berpengaruh terhadap perkembangan mereka," jelas .

"Malnutrisi anak juga memiliki dampak yang signifikan pada ekonomi negara. Hal itu mengurangi produktifitas orang tua dan menciptakan  beban pada sistem perawatan kesehatan. Hal ini dapat mengakibatkan penyakit-penyakit tidak menular, disabilitas dan bahkan kematian, yang pada akhirnya mengurangi potensi tenaga kerja," tutup Rudert. (dra/dra)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads