Filipina: Penyandera 10 WNI adalah Muktadil Bersaudara dari Abu Sayyaf

Filipina: Penyandera 10 WNI adalah Muktadil Bersaudara dari Abu Sayyaf

Nograhany Widhi K - detikNews
Selasa, 29 Mar 2016 18:34 WIB
Filipina: Penyandera 10 WNI adalah Muktadil Bersaudara dari Abu Sayyaf
Foto: Ilustrasi oleh Mindra Purnomo
Jakarta - Perlahan terkuak identitas anggota kelompok Abu Sayyaf yang menyandera 10 anak buah kapal (ABK) WNI di Filipina. Penyandera disebut-sebut masih bersaudara.

Deputi Komandan Satuan Tugas Zambasulta (Zamboanga-Basilan-Sulu-Tawi-tawi) Mayjen Demy Tejares mengutip laporan kelompok intelijen militer Filipina di Mindanao Barat menyebut bahwa pria bersenjata yang menyandera 10 WNI itu diketahui Nickson dan Brown Muktadil bersaudara. Keduanya berada dalam kelompok Alhabsy Misaya di bawah Abu Sayyaf, demikian dilansir media Filipina, Inquirer, Selasa (29/3/2016).

Para ABK dari Brahman 12 itu, sedang berlayar dekat Pulau Tambulian, saat pria bersenjata memaksaΒ  agar nakhoda melabuhkan kapalnya. Namun masih ada perdebatan di kalangan militer mengenai waktu pembajakan itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tejares mengatakan pembajakan terjadi Senin (28/3) malam, sementara sumber militer Inquirer lainnya mengatakan pembajakan itu terjadi Sabtu (26/3) sore.

Sementara Mayor Filemon Tan Jr juru bicara Western Mindanao Command, bagian angkatan bersenjata Filipina yang bertugas memerangi terorisme, mengatakan pihaknya tak bisa memberikan laporan detail mengenai penyanderaan itu, termasuk saat dikonfirmasi mengapa Kepala Militer Filipina Jenderal Hernando Iriberri pergi ke Sulu pada Selasa pagi ini.

Tan mengatakan bahwa Iriberri ke Sulu untuk "farewell visit" alias kunjungan perpisahan, karena Irriberi hendak pensiun pada 22 April 2016. Namun, sumber militer Inquirer mengatakan bahwa Irriberi ke Sulu untuk "mendapatkan informasi tangan pertama tentang penculikan itu".

Sedangkan Wakil Gubernur Sulu Abdusakur Tan meminta penjelasan mengapa orang asing dengan mudahnya diculik di perairan Sulu, ketika tentara seharusnya patroli di perairan itu.

"Militer dan polisi harus menjelaskan dulu, mengapa ada orang-orang Indonesia perairan Sulu. Mengapa mereka di tugboat? Bagaimana bisa, pembajak-pembajak ini mendeteksi tugboat dan orang-orang Indonesia kala otoritas kami seharusnya dilengkapi dengan perlengkapan pemantau?" gugat Abdusakur.

"Diduga, satu ABK, menggunakan kalimat Taiwan, memanggil pemilik kapal dan memberikan informasi bahwa mereka dibawa oleh pria bersenjata. Korban penculikan sekarang diduga di Sulu atau Basilan. Juga meminta tebusan pada pemilik kapal sebesar 50 juta Peso," ujar sumber itu.

Dengan 10 ABK WNI diculik kelompok Abu Sayyaf, maka ada sekitar 2 lusin sandera dari berbagai negara yang ada di tangan kelompok Abu Sayyaf di Sulu, untuk ditukar dengan uang tebusan.

Ada Ewold Horn (Belanda), dua saudara sepupu Hajan Perong dan Joshua Bani (pedagang ikan di Tawi-tawi Filipina), Toshio Ito (pemburu harta karun asal Jepang), Yahong Tan Lim (WN China), Dennis Cabadunga (pebisnis Filipina), John Ridsdel dan Robert Hall (WN Kanada), Kjartan Sekkingstand (WN Norwegia), Marites Flor (Filipina), Rolando del Torchio ( WN Italia), Antonio Tan dan cucunya Ray (pebisnis keturunan China-Filipina) dan Ronnie Bancale (pedagang ikan Filipina).

(nwk/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads