Abah Sawin tak bisa terpisahkan dari Mak Erat yang dinikahinya berpuluh-puluh tahun silam. Meski Abah Sawin kini kesulitan beraktifitas, Mak Erat tetap setia melayani.
Sehari-hari keluarga yang menikah dalam status duda dan janda itu menghabiskan hidupnya tanpa berharap belas kasihan dari tetangga. Keduanya gigih bekerja meski kini Abah Sawin tak lagi bertenaga.
Foto: Tri Ispranoto/detikcom |
Kesetiaan Mak Erat terhadap suaminya ini tak perlu diragukan lagi. Setiap harinya Mak Erat harus berjalan sekitar dua kilometer hanya sekedar untuk mengambil air di masjid terdekat, karena hanya itulah satu-satunya sumber air yang bisa dimanfaatkan bersama warga lainnya.
Sepulangnya dari masjid, Mak Erat tak lantas beristirahat. Dia dengan telaten memandikan sang suami di samping rumahnya. Hal itu dilakukan karena selama menempati rumah tersebut keduanya tak mampu membangun sebuah kamar mandi. Bahkan untuk urusan buang air dilakukan keduanya dengan cara 'gali lubang tutup lubang'.
Meski keduanya bekerja serabutan sebagai petani, upah tersebut hanya digunakan untuk kehidupan sehari-hari dan tak cukup untuk sekedar menabung memperbaiki gubuk tuanya atau mendirikan sebuah kamar mandi.
"Ah da kie weh. Emak jeung Abah mah nu penting suluh hurung bisa nyangu di dapur (Ya begini saja. Emak dan Abah yang pengin kayu bakar bisa menyala dan bisa menanak nasi di dapur)," ucap Abah Sawin yang sudah mulai terbata-bata untuk berbicara, Senin (28/3/2016).
Foto: Tri Ispranoto/detikcom |
Kini sejoli ini tak perlu lagi memikirkan kesulitan di masa senjanya setelah Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, datang untuk memberikan bantuan. Dedi sendiri mengetahui keberadaan pasangan ini lagi-lagi dari pesan masuk melalui SMS Center yang dikirimkan oleh seseorang.
Dalam kunjungannya itu, Dedi memberikan uang sebesar Rp 10 juta untuk membuat instalasi air dan kamar mandi yang layak di rumah tersebut. Sementara sisanya dipergunakan untuk bekal hidup keduanya nanti.
"Ternyata setelah saya datang ke sini, ada 39 rumah yang serupa dengan ini," jelas Dedi.
Foto: Tri Ispranoto/detikcom |
Atas temuannya itu, Dedi menginstruksikan agar segera melakukan bedah rumah terhadap 40 rumah termasuk rumah Abah Sawin dengan total anggaran Rp 400 juta atau Rp 10 juta untuk per satu rumah.
Di tempat yang sama Kades Benteng, Komarudin, mengaku akan langsung mengurus administrasi agar dana tersebut bisa langsung digunakan untuk bedah rumah.
"Setelah semua cair kami akan lakukan gotong royong untuk memperbaiki 40 rumah yang masuk dalam data tadi. Selain menekan angka pembiayaan, gotong royong juga bisa mempercepat proses bedah rumah ini," tutup Komarudin. (trw/trw)












































Foto: Tri Ispranoto/detikcom
Foto: Tri Ispranoto/detikcom
Foto: Tri Ispranoto/detikcom