Saat memberi pelatihan, SBY bercerita begitu dilantik menjadi presiden, dia langsung gerak cepat. SBY segera melantik Kabinet Indonesia Bersatu lalu mengumpulkan para kepala daerah.
"20 Oktober 2004 saya dilantik, hari berikutnya kabinet saya lantik, hari berikutnya sidang kabinet pertama. Kalau dibilang lambat kebangetan. 5 hari kemudian gubernur saya kumpulkan, bersama menteri-menteri," ujar SBY di Novotel Hotel, Bogor, Senin (28/3/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Film ini kita tayangkan dengan tujuan rakyat Indonesia ingat bahwa pemerintahan yang didukung penuh oleh PD telah melakukan banyak hal. Barangkali belum semua hal, tapi many things," kata SBY.
Lalu jenderal purnawirawan TNI tersebut bercerita bahwa ketika mengambil alih pemerintahan, dia menuntaskan apa-apa saja yang belum diselesaikan oleh Megawati dan Gus Dur. Apa yang dia lakukan saat ini, disebutnya kini dilakukan oleh Presiden Joko Widodo.
"Saya tidak menyalahkan siapa-siapa, baik pemerintahan Gus Dur ataupun Ibu Mega. Kalau ada kekurangan saya ada di situ. Semua sudah berbuat pada zamannya. Ada yang dicapai, meski ada yang belum bisa kita wujudkan," ungkap SBY.
"Dari era Gus Dur dan Ibu Megawati, apa yang belum selesai, saya selesaikan. Tunjukkan pada saya yang tidak tercapai. Daya beli rakyat ditingkatkan, infrastruktur dibangun. Hak dasar dan pendidikan ditingkatkan. Kelak Presiden Jokowi juga begitu. Itu hakekat kesinambungan," sambungnya.
Dalam paparan-paparannya, SBY menunjukkan bahwa apa yang dia kerjakan sudah sesuai dengan janji-janji ketika berkampanye, yakni Indonesia yang lebih aman dan damai (peace), adil (justice), demokratis (democracy), dan sejahtera (prosperity). Meski mengaku belum sempurna, dia menyebut bahwa pemerintahannya telah berbuat banyak untuk rakyat.
Untuk itu, dia menyampaikan kekecewaannya dengan adanya pergunjingan yang menyatakan pemerintahannya tidak berbuat apa-apa. Bahwa belum ada yang sempurna, kata SBY, itu adalah suatu keniscyaan.
"Saya masih mendengar kata-kata yang berlebihan, tidak fair, katanya pemerintahan SBY itu tidak berbuat apa-apa. Mungkin pemerintahan yang saya pimpin ada yang belum ok, ada yang sudah ok. Ada yang sudah tercapai, dan belum tercapai. Tapi too much kalau dibilang tidak berbuat apa-apa, atau gagal total," ucap SBY agak kesal.
Salah satu contoh yang dia berikan adalah soal kenaikan harga BBM. SBY membandingkan bahwa ketika memimpin sebagai presiden, dia justru lebih berani mengambil risiko dibanding pemerintahan Presiden Joko Widodo.
"2005 Kita naikkan BBM berapa? 140 persen. Pak Jokowi menaikkan 30 persen, itu bagus. Maka tidak perlu ada kata-kata SBY tidak berani karena takut tidak popular," beber SBY.
SBY berharap bahwa ke depan tidak lagi ada bully-membully dan justifikasi antara satu pihak dan pihak yang lain. Dia juga mengajak Jokowi bersama pemerintahannya untuk saling berkesinambungan dalam membangun bangsa dan negara.
"Pemerintah yang saya pimpin tidak sempurna, mari kita sempurnakan agar semuanya jelas. Tidak semua serba baik, ada yang belum saya jelaskan. Itulah dalam gerak pembangunan bangsa, menjadi tugas dan kewajiban Pemerintah sekarang untuk memperbaiki yang belum," jelas SBY.
"Itulah gerak kesinambungan bangsa menjadi amanat untuk memperbaiki yang belum baik. Tidak ada satupun presiden yang tidak ingin menambah pencapaian. Dan Demokrat akan memberikan dukungan seraya memberikan koreksi jika dibutuhkan. Agar negara kita lebih baik lagi," tutupnya. (ear/tor)










































